Mengenal Ewa Wuna, Atraksi Seni Bela Diri Tradisional dari Muna

279
Mengenal Ewa Wuna, Atraksi Seni Bela Diri Tradisional dari Muna
SILAT MUNA - Atraksi Ewa Wuna atau silat Muna yang ditampilkan ketika acara pernikahan pada 19 September 2023 lalu di Muna Barat. (Foto: Istimewa)

ZONASULTRA.ID, KENDARI – Ewa Wuna atau silat Muna merupakan seni bela diri khas suku Muna yang dikembangkan dari generasi ke generasi.

Selain itu, saat ini seni bela diri ini lebih terkenal sebagai tarian yang dipertunjukan saat acara-acara tertentu pada masyarakat Muna, misalnya saat acara pernikahan, tradisi karia, syukuran, dan lain sebagainya.

Silat khas Muna ini memadukan antara gerakan seni dan bela diri. Dalam praktiknya, Ewa Wuna dapat menggunakan senjata, berupa keris, parang, tombak, ataupun hanya tangan kosong.

Seluruh pemain berusaha saling menyerang, akan tetapi terhalang oleh seorang pemain petombi (pemegang bendera) sehingga seluruh pemain terhindar dari bahaya.

Berbicara Ewa Wuna maka tentu tak lepas dari Rambi Wuna karena Rambi Wuna merupakan musik pengiring silat Muna.

Rambi Wuna adalah alat musik tradisional khas suku Muna. Rambi Wuna memiliki arti pukulan gendang dan gong.

Alat musik yang digunakan dalam Rambi Wuna terdiri dari gong besar, gong ceper, gendang, dan gong kecil (undel-undel).

Pemainnya sendiri ada empat orang yang berperan sebagai pemukul gong, pemukul gendang (metepa), pemukul gong kecil, dan kulit kayu gendang (mepisi).

Salah satu tokoh masyarakat Muna Barat, La Samau mengatakan, Rambi Wuna sudah ada sejak dulu. Rambi Wuna dimainkan saat ada acara pingitan, pernikahan, dan juga menjadi musik pengiring pertunjukan silat Muna.

Menurut La Samau, Rambi Wuna dan Ewa Wuna merupakan satu kesatuan yang tak bisa terpisahkan. Itulah sebabnya ketika gong yang dipukul tidak sesuai irama, pemain silat bisa saja terluka jika menggunakan senjata asli berupa pisau.

“Di situ keunikannya. Tidak boleh salah pukul (gong). Bisa luka yang silat kalau pakai senjata karena senjatanya itu pisau betulan, bukan pisau dari kayu,” terang La Samau.

BACA JUGA :  Dorong Peningkatan Kualitas Event Pariwisata, Dispar Sultra Launching KEN 2024

Untuk mengiringi Ewa Wuna, kata La Samau, penabuh gong dan gendang tidak boleh sembarangan. Harus yang betul-betul paham. Begitu pula pemain silat tidak boleh asal main begitu saja.

Perjalanan Silat Ewa Wuna

Sejarah silat muna atau ewa wuna diturunkan secara lisan dan menyebar dari mulut ke mulut yang di ajarkan dari guru ke murid. Silat ini diperkirakan sudah ada sejak Muna masih berbentuk kerajaan.

Dalam hasil penelitian Syamsuddin yang terbit di jurnal Universitas Halu Oleo (2017) berjudul “Eksistensi Silat Muna (Ewa Muna)”, dijelaskan bahwa pada zaman dahulu ewa wuna mulai dipertunjukan di khalayak masyarakat ketika ada acara adat seperti acara pernikahan dan karia (pingitan) dan penyambutan tamu terhormat yaitu Raja Muna.

Mengenal Ewa Wuna, Atraksi Seni Bela Diri Tradisional dari Muna
Para pemain silat Muna saat beratraksi. (Foto: Istimewa)

keberadaan ewa wuna pada zaman dahulu tidak semua mayarakat bisa memperagakan gerakan ewa wuna. Hal tersebut menunjukan bahwa keberadaan ewa wuna sangat tertutup dan tidak untuk dipertontonkan dalam kehidupan sehari-hari. Olehnya itu ewa wuna pada masa dahulu hanya orang-orang tertentu yang bisa mempelajarinya.

Lebih lanjut dijelaskan, silat Muna dahulu hanya dipentaskan ketika ada kegiatan-kegiatan khusus. Silat muna hanya digunakan sebagai pembelaan diri, sebagai perlengkapan upacara adat dan penyambutan para tamu terhormat.

Syamsuddin menyatakan perjalanan silat muna masa kini tentunya tidak terlalu signifikan perbedaannya dengan zaman dahulu. Jika dahulu ewa wuna hanya orang tua dalam kampung dan keturunannya yang memiliki kemampun untuk memainkannya, saat ini ewa wuna sudah sangat terbuka untuk masyarakat umum.

BACA JUGA :  Disabilitas Netra dan Pemilu: Antara Keinginan dan Keraguan Memilih

Perubahan tersebut dibuktikan dengan adanya perguruan ewa wuna yang ada di Desa Lakologou, Kecamatan Tongkuno, masyarakat khususnya pemuda dan kalangan remaja sangat antusias untuk belajar menjadi murid di perguruan tersebut. Lebih lanjut dijelaskan, saat ini sudah banyak di kalangan pemuda serta anak-anak sudah bisa memainkan gerakan ewa wuna.

Eksistensi Ewa Wuna

Salah satu budayawan Sultra, Syahrun mengatakan, Ewa Wuna sudah ada sejak zaman Kerajaan Muna yang diturunkan secara turun temurun kepada generasi saat ini.

Dulu, Ewa Wuna dipelajari hanya oleh orang-orang tertentu saja sebagai bentuk pembelaan atau pertahanan kerajaan jika terjadi serangan dari luar.

Kini Ewa Wuna sudah populer sebagai tradisi yang dipertunjukkan saat ada pesta adat, pernikahan atau penyambutan tamu.

Syahrun melihat tradisi Ewa Wuna masih akan tetap eksis melihat yang memainkannya tak hanya masyarakat di Muna dan Muna Barat, tetapi juga di luar kedua daerah itu. Salah satunya di Kendari.

Meski begitu, kata Syahrun, pemerintah daerah tidak boleh berdiam diri. Mengingat, generasi muda saat ini mulai banyak yang mempelajari seni beladiri lainnya yang lebih populer seperti taekwondo, karate, dan kempo.

Oleh karena itu, kata Syahrun, sebelum jumlah pelaku Ewa Wuna berkurang, pemerintah harus proaktif untuk tetap melestarikannya. Apalagi pada 2021 Ewa Wuna dinobatkan menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Ada banyak opsi yang bisa dilakukan pemerintah daerah Muna dan Muna Barat, misal membuka perguruan silat di tiap-tiap desa, juga rutin menggelar event atau lomba Ewa Wuna. (***)

 


Editor: Jumriati

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini