Mengenal Keistimewaan Sani-sani yang Masyarakatnya Sukses Terapkan Konsep Desa Wisata

550
Mengenal Keistimewaan Sani-sani yang Masyarakatnya Sukses Terapkan Konsep Desa Wisata
Puncak Indah Kapu di Desa Wisata Sani-sani. (Foto: Daru/Dispar Sultra)

ZONASULTRA.ID – Ingin merasakan pengalaman baru dengan suasana yang memadukan pantai, sawah, tambak, sungai, kebun cengkeh, kebun coklat, dan puncak? Desa Wisata Sani-sani adalah pilihan yang tepat untuk Anda tuju.

Desa Wisata Sani-Sani terletak di Kecamatan Samaturu, Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). Desa wisata yang satu ini menawarkan berbagai keindahan alam yang menyatu dengan keramahan masyarakatnya terhadap wisatawan.

Misalnya di puncak desa ini yang disebut Puncak Indah Kapu, menawarkan pemandangan bentang alam yang berisi kebun cengkeh. Di puncak ini telah tersedia fasilitas beberapa unit glamping, musola, air bersih, lampu penerangan, hingga MCK. Dengan ketinggial 350 MDPL, wisatawan dapat menyaksikan hamparan awan.

Desa wisata ini mengangkat tagline “Mohame for The World”, perpaduan bahasa daerah dan Bahasa Inggris. “Mohame” berasal dari Bahasa Mekongga yang artinya kecantikan atau keindahan. Jadi, maksud dari tagline itu adalah keindahan untuk dunia.

Mulanya kehidupan masyarakat setempat adalah petani dan nelayan. Dengan adanya penetapan wilayah mereka sebagai desa wisata maka masyarakat menyesuaikan dengan turut bekerja sambilan. Ada yang membuka jasa penginapan seperti homestay (rumah pribadi sebagai penginapan wisatawan) dan lain sebagainya untuk menjawab kebutuhan wisatawan.

Desa wisata ini memiliki keunggulan suasana pedesaan yang masih asri nan permai. Apalagi masyarakatnya sudah terbina untuk dapat menerima wisatawan dalam konsep “Desa Wisata”.

Pemerintah desa dan masyarakat sepakat untuk merintis Desa Sani-sani sebagai desa wisata sejak tahun 2016 lalu. Desa wisata merupakan sebuah konsep pengembangan daerah yang menjadikan desa sebagai destinasi wisata terpadu.

Pengelolaan desa wisata ini dengan memberdayakan masyarakat desa itu sendiri. Desa wisata dikembangkan berdasarkan potensi Desa Sani-sani yang menjadi objek wisata, tanpa menghilangkan kearifan lokal dan suasana desanya.

Upaya pemerintah desa bersama masyarakatnya berbuah manis ketika Pemerintah Kabupaten Kolaka menetapkan Desa Sani-Sani Sebagai Desa Wisata dengan SK Bupati Kolaka Nomor 188.45/316/2020 tanggal 16 september 2020.

Desa Sani-sani kini telah didukung dengan berbagai fasilitas yang cukup lengkap. Misalnya di puncak terdapat menara BTS untuk jaringan telekomunikasi sehingga wisatawan dapat tetap terhubung dengan internet.

Kepala Desa Sani-Sani Mujur mengatakan wisatawan tidak perlu khawatir karena fasilitas pendukung sudah memadai. Misalnya menara BTS dan jaringan listrik sudah memadai.

Kemudian, untuk penginapan saat ini terdapat 50 homestay. Selain itu ada pula puskesmas pembantu (pustu) untuk mengantisipasi apabila ada wisatawan yang tiba-tiba sakit.

Konsep wisata yang ditawarkan, selain potensi keindahan alam, juga adalah kehidupan masyarakatnya. Wisatawan bisa menyelami kehidupan masyarakat yang merupakan petani dan nelayan.

“Di puncak tetap ada aktivitas masyarakat berkebun cengkeh, jadi dengan adanya wisata tidak mengurangi pohon cengkeh. Karena wisata di sini adalah kehidupan sehari-hari masyarakat yang diikuti, misal kita mau jadi nelayan, diantar jadi nelayan sambil nyelam, sambil lihat rumput laut, sambil diving,” ujar Mujur.

Kunjungan wisata ke desa itu kini bisa mencapai 8 orang per hari. Khusus pada hari Sabtu dan Minggu, bisa mencapai 30 orang yang naik ke Puncak Indah Kapu. Mayoritas pengunjung berasal dari wilayah Kabupaten Kolaka, Kolaka Timur, Konawe Selatan, dan Kota Kendari.

Paket Wisata yang Ditawarkan

Mengenal Keistimewaan Sani-sani yang Masyarakatnya Sukses Terapkan Konsep Desa Wisata
Pengunjung berkemah di Puncak Indah Kapu, Desa Sani-sani. (Foto: Istimewa)

Desa Sani-sani terletak di Kolaka, sebuah kabupaten berjuluk Wonua Mekongga (Bumi Mekongga) yang ditunjang dengan akses jalan beraspal dan Bandara Sangia Nibandera. Jarak Sani-sani dari pusat ibu kota Kolaka sekitar 25 kilometer. Dengan jalan mulus waktu tempuhnya hanya sekitar 30 menit bila menggunakan kendaraan bermotor.

Bagi Anda yang ingin berkunjung tanpa pemandu wisata, dapat langsung datang ke Desa Sani-Sani menjelajah. Anda hanya perlu membayar retribusi, misalnya di Puncak Indah Kapu Rp25 ribu. Pembayaran juga dapat berlaku untuk jasa yang ditawarkan masyarakat setempat.

Namun, bagi Anda yang ingin didampingi maka dapat menggunakan paket wisata dari Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Sani-sani. Pokdarwis ini merupakan kelompok swadaya masyarakat yang memiliki kepengurusan dan keberadaannya diakui serta didukung oleh Pemerintah Desa Sani-sani.

Misalnya paket melepas penat selama tiga hari dua malam di Puncak Indah Kapu harganya Rp650 ribu. Dari paket ini, fasilitas yang disediakan adalah tenda dengan kapasitas maksimal 4 orang, perlengkapan tidur (kasur dan sleeping bag), makan siang 2x, makan malam 2x, makan pagi 2x, snack kopi/teh dan pisang goreng, kamar mandi, dan parkir.

Jika Anda ingin bermain arung jeram, paket per orangnya adalah Rp50 ribu. Anda juga bisa memilih sensasi seru berkendara naik motor trail off road dengan mengambil paket adventour seharga Rp150 ribu per orang (include dengan joki yang akan mengajak berkeliling).

Koordinator Pokdarwis Sani-sani, Hasanuddin menjelaskan wisatawan memang dapat menyatu dengan kehidupan masyarakat desa. Di Puncak Indah Kapu terdapat perkebunan cengkeh dan merica, di mana pengunjung dapat turut merasakan pengalaman memetik cengkeh dan merica secara langsung.

“Kemarin itu ada pengunjung langsung ikut memetik merica untuk dia bawa pulang jadi oleh-oleh. Kalau padi juga sudah menguning wisatawan bisa turut ikut memotong padi,” ujar Hasanuddin.

Ditunjang Kehadiran UMKM

Mengenal Keistimewaan Sani-sani yang Masyarakatnya Sukses Terapkan Konsep Desa Wisata
Pelaku ekonomi kreatif, Harningsi yang menghasilkan kerajinan dari sampah gelas plastik. (Foto: Istimewa)

Bergairahnya pariwisata di Desa Sani-sani mendorong kehadiran usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Untuk menjawab kebutuhan wisatawan, ada warga yang membuka usaha kios kelontong, konter penjualan pulsa, dan lain sebagainya.

Salah satunya adalah Harningsi yang menjadi pengrajin dengan mengandalkan bahan limbah gelas plastik. Ibu dari tiga anak ini mengubahnya menjadi aneka kerajinan yaitu bosara yang (wadah kuliner tradisional), tempat tisu, tempat sendok, hingga keranjang buah.

Anggota Pokdarwis Sani-sani ini menjual kerajinan tangan bikinannya kepada pengunjung yang datang ke Sani-sani dan ada pula yang memesan secara online dan melalui telepon. Satu set kerajinan dijualnya dengan harga Rp2,5 juta. Untuk bosara, dijualnya per setengah lusin Rp1,5 juta.

Ia mulai menjual kerajinan sejak Sani-Sani menjadi Desa Wisata pada tahun 2020 lalu. Awalnya ia hanya sekadar iseng-iseng membuat kerajinan sebagai kegiatan ibu rumah tangga. Ia banyak belajar melalui Youtube dan langsung mempraktikannya sendiri.

“Sangat terbantu dengan populernya desa wisata, dari tidak ada penghasilan menjadi ada penghasilan,” ujar Harningsi.

Dari hasil penjualan kerajinan turut membantu perekonomian rumah tangganya. Sebelumnya, ia hanya mengandalkan suaminya yang berkebun durian dan lain-lain sebagaimana masyarakat pada umumnya di desa itu.

Pemerhati Pariwisata Sulawesi Tenggara, Ahmad Nizar menjelaskan apa yang terjadi di Desa Sani-sani merupakan satu keberhasilan dari sisi ekonomi. Terjadi pergerakan ekonomi dengan sumber baru yang tidak mengganggu pergerakan perekonomian awal di kampung itu.

“Kemudian tentunya angka kunjungan. Tadinya wilayah itu hanya dilintasi, sekarang orang singgah bahkan nginap, mencicipi kuliner,” ujar Ino, sapaan akrab Ahmad Nizar, yang pernah menjadi pembina pariwisata Sani-sani.

Di Sani-sani saat ini telah terbentuk pola manajemen kepariwisataan yang dikelola oleh Pokdarwis. Kata Nizar, pergerakan masyarakat di desa ini untuk menjadi desa wisata paling signifikan sejak 2019 dengan menambah pemahaman bahwa Sani-sani memiliki potensi yang besar untuk wisata.

Selain itu, dengan keluarnya SK Bupati Kolaka tentang penetapan desa wisata maka ada dukungan penguatan sumber daya manusia (SDM) dari pemerintah. Masyarakat setempat diberikan ruang untuk ikut bimbingan teknis (bimtek) secara gratis. Saat ini 60 persen sampai 70 persen pengelola pariwisata di Sani-sani telah tersertifikasi sesuai bidangnya masing dari bidang pemandu wisata, homestay, hingga UMKM.

Desa Sani-sani juga tidak hanya mendapat dukungan Pemerintah Kabupaten dan Provinsi untuk penguatan kapasitas SDM tapi juga pengembangan destinasi. Beberapa lokasi wisata juga mendapat dukungan infrastruktur. Salah satu alasan dukungan diberikan karena masyarakatnya serius untuk menjalankan konsep desa wisata.

Alhasil, Desa Sani-sani menjadi salah satu dari 75 desa di Indonesia yang berhasil mendapatkan Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023 dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Sang Menteri Parekraf Sandiaga Uno pun akan segera mengunjungi Sani-sani, termasuk desa-desa peraih ADWI lainnya.

Pelayanan dan Fasilitas

Mengenal Keistimewaan Sani-sani yang Masyarakatnya Sukses Terapkan Konsep Desa Wisata
Kolase foto kayaking yakni olahraga air yang dilakukan dengan mengendalikan perahu kecil (kayak) di Sungai Sani-sani. (Foto: Istimewa)

Untuk menjadi desa wisata unggulan, Sani-sani mempunyai fasilitas yang memadai sebagai destinasi wisata dan ditunjang pelayanan yang baik pula. Hal ini diakui oleh pengunjung, Linto, yang berkunjung ke Desa Sani-sani pada bulan Mei 2023 lalu.

“Kan di destinasi itu yang paling penting MCK, di puncak Sani-sani tempat kamping itu sudah ada. Jadi wisatawan tidak ribet lagi mau mandi, buang buang hajat itu sudah aman di sana. Baguslah kalau fasilitasnya,” tutur Linto.

Sebagai penggiat alam, Linto melihat Desa Sani-sani memiliki potensi yang besar. Selain kawasan pantai dan puncak, Sani-sani juga mempunyai bentang alam yang jauh lebih bagus, misalnya ada lokasi wisata air panas, air terjun, dan sungai.

Sungai di Sani-sani menjadi tempat river tubing yakni aktivitas wisata mengarungi sungai menggunakan ban atau karet. Selain itu, sungai ini juga cocok untuk kayaking/canoeing yakni olahraga air yang dilakukan dengan mengendalikan perahu kecil (kayak) dengan menggunakan dayung.

“Aksesibilitas itu sudah bagus, untuk sampai ke puncak juga itu sudah bagus, terus pelayanan juga sudah bagus. Kalau kita tidak mau terlalu ribet itu kita bisa beli paket wisatanya, di situ sudah ada penginapan inklude dengan makanannya. Saya pikir wort it-lah kalau main ke Sani-sani,” ujar Linto. (*)

Editor: Muhamad Taslim Dalma

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini