Pemkab Mubar Luncurkan Dapur Sehat Atasi Stunting

Pemkab Mubar Luncurkan Dapur Sehat Atasi Stunting
DAPUR SEHAT - Pj Bupati Mubar, Bahri bersama Ketua TP PKK Mubar, Yosi Rena Bahri, Sekda Mubar, LM Husein Tali dan ibu, Dandim 1416/Muna dan ibu saat melakukan demo masak di halaman kantor bupati, Senin (29/5/2023). (Kasman/ZONASULTRA.ID)

ZONASULTRA.ID LAWORO – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Muna Barat (Mubar), Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) resmi meluncurkan Dapur Sehat Atasi Stunting, yang dilaksanakan di halaman kantor bupati, Senin (29/5/2023).

Pj Bupati Mubar, Bahri mengungkapkan dengan diluncurkannya Dapur Sehat Atasi Stunting ini adalah salah satu cara mengatasi stunting dengan memberikan makanan yang mengandung protein hewani kepada anak penderita stunting.

Menurutnya, stunting di Mubar sangat dapat diatasi. Untuk itu, ia melakukan dua intervensi dalam mengatasi stunting yakni intervensi spesifik dan sensitif.

“Jadi, intervensi kita itu yakni pada 1.000 hari pertama kehidupan dan 270 hari pada kehamilan, serta 730 hari setelah melahirkan. Untuk anak 0 hingga 6 bulan air susu ibu, jika tidak ada ASI kita akan membelikan susu formula,” kata Bahri.

Kemudian, untuk anak 6 bulan sampai 23 bulan yakni pemberian makanan tambahan. Untuk makanan tambahan yang akan diberikan yakni makanan yang mengandung protein hewani.

BACA JUGA :  Hujan Disertai Angin Kencang, Satu Rumah Warga Mubar Tertimpa Pohon Tumbang

Alumni IPDN 07 ini berharap tidak ada lagi pemberian makanan tambahan seperti bubur kacang hijau. Ia sudah memerintahkan seluruh pejabat eselon 2, 3 dan 4 serta Forkopimda menjadi bapak asuh stunting.

“Saya tidak mau ada lagi pemberian makanan tambahan itu bubur kacang hijau di Mubar. Yang ada sekarang untuk anak 6 bulan ke atas itu adalah pemberian makanan mengandung protein hewani. Saya juga sudah menugaskan seluruh pejabat di Mubar, menjadi bapak asuh,” ucapnya.

Dalam rangka penanganan stunting di Mubar, tambah Direktur Perencanaan Anggaran Daerah, Kemendagri ini, ia sudah menetapkan lokasi fokus (lokus) yang menjadi prioritas. Lokus yang menjadi prioritas penanganan stunting ini adalah di daerah pesisir. Berdasarkan data SSGI, penyumbang stunting terbesar ada di pesisir yakni di Kecamatan Maginti.

BACA JUGA :  Benteng Tiworo dan Benteng Lasiapamu Direkomendasikan Jadi Cagar Budaya

“Jadi, berdasarkan data SSGI ini angka stunting di Mubar capai 31,7 persen (201 anak). Angka stunting ini tersebar di kecamatan yang ada di pesisir seperti Kecamatan Maginti,” ucapnya.

Dengan daerah pesisir menjadi penyumbang angka stunting tertinggi, Bahri pun bingung. Sebab, yang ia ketahui masyarakat pesisir ini mata pencaharian sebagai nelayan.

“Ternyata setelah kita cek, masyarakat pesisir ini ada perubahan pola hidup. Tadinya dari hasil nelayan ini, bisa dikonsumsi di rumahnya tapi mereka jual hasil tangkapnya dan kemudian membeli Indomie untuk dimakan,” jelasnya.

Untuk itu, Bahri mengimbau kepada seluruh masyarakat yang ada diwilayah pesisir agar hasil tangkapnya tidak semua dijual tetapi juga menyisahkan untuk dikonsumsi di rumahnya untuk dimakan. (B)

 


Kontributor : Kasman
Editor: Muhamad Taslim Dalma

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini