Soal Kekeringan, BMKG Sebut 6 Daerah di Sultra Berstatus Awas

101
ilustrasi musim kemarau
Ilustrasi

ZONASULTRA.ID, KENDARI – Terkait kekeringan yang melanda wilayah Sulawesi Tenggara (Sultra), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) UPT Stasiun Klimatologi Sulawesi Tenggara (Sultra) menyebut 6 daerah di Sultra berstatus awas.

Kepala Stasiun Klimatologi Sultra, Aris Yunatas mengatakan bahwa hal tersebut diketahui melalui hasil prediksi yang dilakukan. Dari status kekeringan itu juga menunjukkan bahwa prakiraan durasi musim hujan di seluruh wilayah Sultra akan terjadi pada Maret, April dan Mei 2024.

“Ada 6 daerah berpotensi awas kekeringan, yaitu Kota Baubau, Buton Selatan (Busel), Bombana, Buton Tengah (Buteng), Muna, dan Muna Barat (Mubar),” ungkapnya di Kendari pada Selasa (24/10/2023).

Adapun beberapa wilayah di masing-masing daerah dengan status kekeringan awas itu antara lain Kota Baubau meliputi Kecamatan Batupoare, Betoambari, Bungi, Sorawolio, Wolio, Murhum dan beberapa kecamatan lainnya.

BACA JUGA :  BMKG Prediksi Wilayah di Sultra Masih Dilanda Hujan Beberapa Hari ke Depan

Kabupaten Bombana meliputi Kecamatan Kabaena, Kabaena Barat, Kabaena Selatan, Kabaena Tengah, Kabaena Timur dan Kabaena Utara. Sedangkan di Kabupaten Busel yakni Kecamatan Batauga, Kadatua, Lapandewa, Sampolawa, Siompu, Siompu Barat, Batu Atas.

Kabupaten Buteng di antaranya Kecamatan Gu, Lakudo, Mawasangka, Mawasangka Tengah, Mawasangka Timur, Talaga Raya, Sangia Wambula. Kabupaten Muna meliputi Kecamatan Bone, Kabangka, Kabawo, Tongkuno, Tongkuno Selatan.

” Di Muna Barat juga terdapat beberapa kecamatan yang berdampak kekeringan,” tutur Aris.

Sementata itu, pasca kekeringan, Aris mengatakan dampak dari musim hujan ke depan akan terjadi pada beberapa sektor yakni sektor kebencanaan, sektor perkebunan dan sektor transportasi.

BACA JUGA :  BMKG Prediksi Wilayah di Sultra Masih Dilanda Hujan Beberapa Hari ke Depan

Pada sektor kebencanaan akan terjadi peningkatan curah hujan yang disertai angin kencang dan petir, dampaknya yakni banjir, tanah longsor, dan angin puting beliung.

Di sektor pertanian maupun perkebunan yaitu genangan atau banjir pada lahan pertanian serta rusaknya komoditas tanaman tertentu akibat angin kencang. Kondisi tersebut berpotensi akan menyebabkan terjadinya gagal panen yang akan menurunkan produksi serta berimbas pada kenaikan harga.

“Sedangkan dampak di sektor transportasi yaitu jalanan licin dan tergenang, tumbangnya pohon akibat angin kencang, dan rusaknya jembatan maupun jalanan,” ujar Aris. (B)

 


Kontributor: Ismu Samadhani
Editor: Muhamad Taslim Dalma

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini