Filosofi Berladang dalam Tari Motasu

Filosofi Berladang dalam Tari Motasu
Tari motasu yang ditampilkan oleh para penari dari Sanggar Ana Sepu Sorume. (Foto: IG @ sanggar_anasepu_sorume)

ZONASULTRA.ID, KENDARI – Tari Motasu merupakan tarian tradisional yang diangkat dari tradisi masyarakat Tolaki saat bercocok tanam dengan cara berladang. Motasu sendiri memiliki arti menanam padi di ladang.

Seperti namanya, gerakan pokok dalam tarian ini adalah menugal dan menanam padi. Selain itu, terdapat pula gerakan yang menggambarkan permohonan kepada Tuhan agar dalam berladang selalu dapat perlindungan dan kelak dikaruniai hasil yang melimpah.

Secara keseluruhan tari motasu ini menggambarkan suasana dan aktivitas masyarakat Tolaki pada zaman dulu saat masih menanam padi di ladang.

Tari Motasu sendiri dipercaya tercipta sejak nenek moyang masyarakat Tolaki mengenal aktivitas bercocok tanam dengan cara berladang.

Menurut Ajemain Suruambo, tokoh adat sekaligus budayawan Tolaki, masyarakat Tolaki kuno awalnya hidup meramu, yaitu mengumpulkan umbi-umbian serta hidup berpindah-pindah. Ketika mengenal aktivitas bercocok tanam maka mereka mulai hidup menetap dan berkomunal. Kemungkinan tari motasu berkembang pada masa itu.

“Zaman dulu kalau mau menanam padi di ladang, malam harinya itu digelarlah tari motasu untuk menghibur tamu dan juga orang-orang yang akan menanam padi keesokan harinya,” ungkap Ajemain.

Mengikuti perkembangan zaman, kata Ajemain, kini tari motasu tak lagi ditampilkan saat musim tanam padi karena masyarakat Tolaki sudah lama meninggalkan sistem ladang dan beralih ke sistem persawahan.

Menurut Ajemain, tari motasu saat ini hanya sebagai hiburan semata. Tarian ini kerap ditampilkan saat acara 17 Agustus-an maupun perayaan-perayaan lainnya.

Tari motasu dipentaskan oleh enam atau delapan orang penari. Namun yang paling umum adalah enam orang. Keenam penari berpasang-pasangan, tiga laki-laki dan tiga perempuan.

BACA JUGA :  Dispar Sultra Luncurkan Aplikasi “Maimo”, Berisi Tentang Informasi Wisata

Penari laki-laki memegang properti tugal yaitu tongkat atau kayu yang bagian bawahnya diruncing sedangkan penari perempuan memegang wadah berisi benih padi.

Dalam tari motasu, gerakan inti penari laki-laki adalah membuat lubang atau menugal dengan menggunakan tongkat. Lubang tersebut akan menjadi tempat benih padi ditanam. Sedangkan gerakan inti penari perempuan adalah menaburkan benih padi ke dalam lubang.

Para penari juga mengenakan pakaian yang mirip dengan petani, misal perempuan mengenakan kebaya zaman dulu dan bawahannya mengenakan sarung. Sementara laki-laki mengenakan celana yang panjangnya sebetis.

Seperti tari tradisional lainnya, tari motasu juga diiringi alat musik tradisional, yaitu gong dan gendang serta memiliki lagu dalam bahasa Tolaki yang menceritakan proses motasu. Sepanjang tari motasu ditampilkan, lagu tersebut juga akan dinyanyikan.

Tradisi Berladang

Masyarakat Tolaki diketahui adalah masyarakat agraris yang kehidupannya tak terpisahkan dengan pertanian. Sebelum mengenal sistem persawahan seperti saat ini, masyarakat suku Tolaki dulunya berladang secara berpindah-pindah.

Filosofi Berladang dalam Tari Motasu
Gambaran aktivitas berladang yang ditampilkan dalam tari motasu. (Foto: IG @ sanggar_anasepu_sorume)

Untuk menerakan sistem pertanian tradisional ini, masyarakat petani merombak hutan. Pertama-tama terlebih dahulu memilih lahan yang akan dijadikan lokasi berladang. Setelah itu lahan dibersihkan dengan cara membersihkan akar-akaran dan menebang pepohonan, baik pohon-pohon kecil maupun pohon besar, dan lain sebagainya.

Terakhir pohon dan akar-akar tersebut kemudian dibakar. Setelah sisa-sisa kayu yang dibakar dibersihkan maka dimulailah motasu atau menanam padi. Tapi sebelum itu, terlebih dahulu petani membuat lubang untuk tempat benih ditanam atau biasa disebut menugal.

BACA JUGA :  Kerja Sama dan Persaudaraan dalam Permainan Tradisional Lojo di Buton

H. Darma, tokoh adat suku Tolaki sekaligus pemilik Sanggar Ana Sepu Sorume, mengatakan, motasu inilah yang menjadi inspirasi lahirnya tarian motasu sebagai gambaran kehidupan masyarakat Tolaki dulu yang berladang berpindah-pindah.

Menurut dia, tarian ini memiliki banyak kreasi, terutama di sanggar-sanggar. Formula tari motasu di sanggar A pasti berbeda dengan sanggar B, namun gerakan intinya tetap sama, yaitu menugal atau membuat lubang dan gerakan menanam padi itu sendiri.

“Tari motasu ini bisa dikreasikan, tergantung pelatih atau kreatornya, tapi gerakan intinya itu tetap sama. Propertinya juga sama, tongkat dan wadah untuk benih,” terangnya.

Filosofi Tari Motasu

Menurut H. Darma, nilai-nilai yang terkandung dalam tari motasu secara filosofis ada nilai kebersamaan dan gotong-royong, terutama saat gerakan menugal dan menaburkan benih padi yang menjadi gerakan inti tari motasu.

Filosofi Berladang dalam Tari Motasu
Gerakan tari motasu ditampilkan oleh penari dari Sanggar Ana Sepu Sorume. (Foto: IG @ sanggar_anasepu_sorume)

Kedua nilai kekompakan sebab jika para penari tidak kompak maka tidak akan seirama dengan musik pengiring. Terakhir nilai keindahan dari tarian motasu itu sendiri.

Terkait perkembangan tarian ini di masyarakat, kini lebih banyak ditemukan di sanggar-sanggar seni.

Menurut H. Darma tarian ini wajib dilestarikan, terutama para generasi milenial karena tarian ini bercerita tentang sejarah pertanian masyarakat Tolaki.

“Anak-anak sekarang musti tahu bahwa petani masyarakat Tolaki itu juga pernah berladang,” tutupnya. (*)

 


Editor: Jumriati

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini