
ZONASULTRA.COM, KENDARI – PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) tidak tinggal diam terkait tudingan adanya dugaan pencemaran tambak warga yang berada disekitar lokasi pabrik tepatnya di Morosi Kabupaten Konawe Sulawesi Tenggara (Sultra)
Deputy Branch Manager PT VDNI A Chairillah Wijdan menyampaikan tudingan jika perusahaan pertambangan nikel itu mencemari tambak warga hingga membuat ikan peliharaan warga mati tidaklah benar. Perlu ada pendapat ahli atau penelitian yang membuktikan jika benar adanya telah terjadi pencemaran dari aktifitas pertambangan.
” Sampai saat ini kami belum pernah menerima laporan atau pengaduan resmi terkait limbah tersebut. Kalau tuduhan bahwa ikan di tambak itu mati gegara limbah perusahaan harus dibuktikan oleh ahli. Ditambah lagi kok hanya satu tambak saja yang ikanya mati sementara tambak disebelahnya baik-baik saja,” terang Chairillah.
Khairillah menambahkan untuk pihaknya menyadari merupakan produsen limbah maka untuk itulah perusahaan memiliki lokasi pengelolaan limbah yang disebut tempat penyimpanan sementara (TPS) yang berada didalam lingkungan pabrik. Konotasi pencemaran yang menyebabkan lingkungan rusak kata Nanung harusnya protes datang dari semua warga dan bukan hanya dari satu pihak atau warga tertentu.
Dalam kesempatan itu pria yang akrab disapa Nanung itu juga ingin meluruskan isu yang menyudutkan jika perusahaan mereka melakukan aksi premanisme juga tidaklah berdasar. VDNI tidak pernah menggunakan preman untuk pengamanan diambil alih oleh security internal perusahaan dibantu personil kepolisian dari Direktorat Pengamanan Objek Vital (PamObvit) Polda Sultra.

” Virtue Dragon Termasuk dalam objek vital Industri nasional jadi untuk pengamanan kami kerjasama dengan PamObvit dan security internal,” imbuhnya.
Hal lain yang juga disikapi terkait tuduhan perusahaan yang tidak merealisasikan dana CSR sejak perusahaan beroperasi 4 tahun lalu, pria berkaca mata itu juga membantahnya. Menurut Nanung saat ini pihaknya menggandeng Universitas Halu Oleo Kendari untuk membantu VDNI terkait study dan design pengelolaan CSR yang akan disalurkan agar nantinya lebih tepat guna dan sasaran kepada warga sekitar.
” kita sudah salurkan CSR tapi sejauh ini belum terarah. Ada desa yang kita bantu aliran air bersih. Kalaubada kegiatan sosial kami juga aktif membantu. Sehingga kami berinisiatif menggandeng Universitas Halu Oleo untuk melakukan study dan design terkait CSR khususnya bagi warga yang tinggal di kawasan tambang agar penyaluran CSR lebih terarah,” tambahnya.
Untuk diketahui VDNI merupakan satu dari 14 kawasan industri yang dibangun diluar pulau Jawa. Saat ini perusahaan asal Tiongkok itu tengah merampungkam pembangunan smelternya. Selain smelter VDNI juga tengah membangun pembangkit listrik berkapsitas 569 MW. Nilai investasi VDNI mencapai 13 triliun dan diperkirakan saat pembangunan perusahaan tuntas dan berproduksi mampu menyerap tenaga kerja hingga 18.200 orang.
Untuk diketahui sebelumnya pada pekan lalu santer diberitakan oleh media aktifitas pertambangan VDNI di Morosi menimbulkam sejumlah persoalan diantaranya pencemaran serta premanisme. Berita tersebut dianggap tidak sesuai realitas lapangan hingga perusahaan perlu melakukan klarifikasi. (*)









