ZONASULTRA.COM, LASUSUA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kolaka Utara (Kolut), Sulawesi Tenggara (sultra) lepas tanggung jawab atas kasus meninggalnya bayi dalam perjalanan ketika dirujuk ke rumah sakit beberapa waktu lalu karena oksigen di puskesmas setempat kosong.
Kepala Dinkes Kolut Alias menyayangkan lambatnya tindakan pihak Puskesmas Pakue Utara terkait stok oksigen. Alias juga mempertanyakan kinerja kepala puskesmas yang seharusnya jauh sebelum kehabisan stok oksigen, sudah harus lakukan permintaan.
“Saya sudah katakan semua kapus jalur koordinasi tidak ada yang lain kecuali kepala dinas ketika ada kendala atau masalah. Ketika sudah sampaikan secara langsung kemudian saya lalai itu tanggung jawab saya,” tegas Alias saat dihubungi Sabtu (5/5/2018).
Alias menilai alat kesehatan baik itu oksigen, infus, antibiotik yang sifatnya penting harus selalu siap. Begitu stoknya habis lakukan komunikasi ke kepala dinas karena itu sudah kewajiban kepala puskesmas.
Alias menilai, urusan oksigen itu bukan tanggung jawab mutlak di dinas karena sudah diserahkan kepada puskesmas.
“Puskesmas bilang oksigen kosong apa memang sudah komunikasi ke saya, jangan sampai komunikasinya hanya sesama staf. Ada yang meningal karena oksigen kosong di gudang itu tidak masuk akal,” tandasnya.
(Baca Juga : Stok Oksigen Habis, Bayi Rujukan dari Puskesmas Pakue Utara Meninggal di Jalan)
Sebelumnya bayi laki-laki pasangan Muhammad Irfan (28) dan Susi Susanti (24), warga Amoe, Kecamatan Pakue Utara, Kolut meninggal dunia dalam perjalanan saat akan dirujuk ke RS Djafar Harun Lasusua, Kamis (26/4/2018) lalu.
Nurbayani, bidan desa setempat mengatakan, bayi yang meninggal dunia sekitar pukul 23.00 Wita itu disebabkan stok oksigen di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Pakue Utara sudah habis. Saat dilahirkan, bayi malang itu sudah dalam kondisi tidak normal dan sangat membutuhkan bantuan pernapasan melalui oksigen.
Kepala Puskesma Pakue Utara Alfrianus mengakui, jika saat itu memang pihaknya sudah tidak memiliki persediaan oksigen.
“Ada memang bayi yang meninggal, tapi waktu itu biar di gudang dinas kesehatan, oksigennya kosong,” kata Alfrianus.
Meski begitu, Alfianus mengaku sudah sering kali mengajukan permintaan oksigen ke Dinas Kesehatan Kolut. Tapi permintaan itu selalu tidak ditanggapi, bahkan kebutuhan oksigen seolah dibatasi oleh instansi itu.
“Jadi kalau ada pasien yang kritis, tetap kita rujuk,” tandasnya. (B)