28.4 C
Kendari
Senin, 06 April 2026
iklan zonasultra
Beranda Daerah Sultra Raya Komunitas Waria di Sultra dan Perannya Menangani HIV/AIDS

Komunitas Waria di Sultra dan Perannya Menangani HIV/AIDS

524
Komunitas Waria di Sultra dan Perannya Menangani HIV/AIDS
WARIA- Ketua Kerukunan Waria Sulawesi Tenggara (KWST) Aldo Feronica (tengah) saat berfoto bersama anggota komunitas waria lainnya, Senin (27/11/2017) dalam acara Hari Pencanangan HIV/AIDS Provinsi Sultra. (ILHAM SURAHMIN/ZONASULTRA.COM)

Komunitas Waria di Sultra dan Perannya Menangani HIV/AIDS WARIA– Ketua Kerukunan Waria Sulawesi Tenggara (KWST) Aldo Feronica (tengah) saat berfoto bersama anggota komunitas waria lainnya, Senin (27/11/2017) dalam acara Hari Pencanangan HIV/AIDS Provinsi Sultra. (ILHAM SURAHMIN/ZONASULTRA.COM)

 

ZONASULTRA.COM, KENDARI – Komunitas Waria Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menjadi salah satu populasi kunci dalam penanganan HIV/AIDS di Bumi Anoa.

Direktur Umum RSUD Bahteramas Provinsi Sultra Yusuf Hamra mengatakan penetapan tersebut bukan tanpa alasan. Pasalnya, kelompok tersebut merupakan salah satu yang rentan akan penyakit HIV/AIDS karena sering terlibat dalam kehidupan malam.

“Nah, kita jadikan mereka motor untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat atau teman sekelompok. Terutama PSK yang mereka banyak kenali,” kata Yususf dalam acara Hari Pencanangan HIV/AIDS Provinsi Sultra di Grand Clarion Hotel, Senin (27/11/2017).

Mereka juga diharapkan dapat mengajak populasi kunci lainnya agar rutin melakukan pemeriksaan di klinik kesehatan yang menyediakan layanan HIV/AIDS.

Hampir di seluruh kabupaten/kota di Sultra telah tersedia layanan tersebut, terutama RSUD masing-masing kabupaten/kota.

“Jadi tinggal kesadaran masyarakat saja untuk melakukan pemeriksaan. Apalagi tidak ada biaya yang dipungut alias gratis,” pungkasnya.

Ketua Kerukunan Waria Sultra (KWST) Aldo Feronica kurang setuju jika komunitas waria disebut populasi kunci. Sebab, masih banyak komunitas lain yang termasuk populasi kunci.

Namun jika disebut sebagai kelompok yang rentan serta beresiko akan HIV/AIDS, Aldo tak memungkirinya.

“Lelaki beresiko tinggi (LBT) juga itu menurut saya resikonya sangat tinggi, kalau kami disebut populasi kunci kurang setuju ya,” ungkap Aldo di sela-sela kegiatan yang sama.

Ia mengaku KWST sudah banyak terlibat dalam kegiatan sosialisasi akan bahaya HIV/AIDS jika tidak dicegah. Salah satunya bagaimana berhubungan seks yang aman dengan menggunakan kondom.

Saat ini jumlah waria di Sultra mencapai 1.843 orang yang tersebar di seluruh kabupaten/kota. Tertinggi ada di Kota Kendari, Kolaka Utara (Kolut), Kolaka Timur (Koltim), Bombana, Baubau dan Konawe.

“Saya sendiri juga bekerja di Lembaga Advokasi HIV/AIDS dan sudah banyak melakukan kegiatan dan menangani masalah tersebut,” pungkasnya.

“Intinya permasalah ini adalah tugas kita semua untuk mencegahnya karena siapa saja pada umumnya rentan akan itu,” ujarnya.

Yusuf menambahkan bahwa populasi kunci juga sudah memberikan peran aktif dalam penanganan HIV sebab melalui mereka jadwal pemeriksaan dapat dilakukan oleh tim medis kesehatan. (B)

 

Reporter: Ilham Surahmin
Editor: Jumriati