31.4 C
Kendari
Kamis, 05 Maret 2026
iklan zonasultra
Beranda Daerah Kendari Mengenal Sosok Sukmawati, si Penggalang Dana untuk Bayi Ichthyosis Asal Konsel

Mengenal Sosok Sukmawati, si Penggalang Dana untuk Bayi Ichthyosis Asal Konsel

161
Mengenal Sosok Sukmawati, si Penggalang Dana untuk Bayi Ichthyosis Asal Konsel
DONASI - Sukmawati (kiri) saat menyerahkan secara langsung bantuan donasi yang telah dikumpulkan dermawan melalui rekening pribadinya kepada ibu bayi penderita Harlequin Ichtyosis asal Konawe Selatan (Konsel) Jene (kanan), Senin (4/12/2017) di Ruang PICU NICU RSUD Bahteramas Provinsi Sultra. (Istimewa)

Mengenal Sosok Sukmawati, si Penggalang Dana untuk Bayi Ichthyosis Asal KonselDONASI – Sukmawati (kiri) saat menyerahkan secara langsung bantuan donasi yang telah dikumpulkan dermawan melalui rekening pribadinya kepada ibu bayi penderita Harlequin Ichtyosis asal Konawe Selatan (Konsel) Jene (kanan), Senin (4/12/2017) di Ruang PICU NICU RSUD Bahteramas Provinsi Sultra. (Istimewa)

 

ZONASULTRA.COM, KENDARI – Pemilik akun media sosial Sukmawati ramai diperbincangkan karena akun facebooknya menampilkan penggalangan donasi untuk membantu biaya pengobatan bagi seorang bayi asal Kabupaten Konawe Selatan penderita Harlequin Ichthyosis yang di rawat di PICU NICU RSUD Bahteramas Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) .

Sukmawati pertama kali memposting penggalangan dana bagi bayi Harlequin Ichthyosis pada Minggu 3 Desember 2017. Postingan itiu langsung menarik simpati netizen. Sejak terposting donasi untuk membantu biaya pengobatan sang bayi kini mencapai Rp13,4 juta. Postinganya Sukmawati menjadi viral. Dibagi sebanyak 1242 kali dan yang menyukai sebanyak 877.

Melalui sambungan telpon seluler kepada zonasultra, Rabu (6/12/2017) Sukmawati menceritakan niatnya menggalang donasi karena keprihatinanya terhadap kondisi bayi dari pasangan Jene dan Jusman.

(Baca Juga : Himpunan Mahasiswa Konsel Kumpulkan Dana untuk Bayi Penderita Harlequin Ichthyosi)

Selain itu dirinya juga pernah melakukan hal serupa pada 2013. Saat itu ia bertugas di Puskesmas Kecamatan Kabaena Barat, mendapati balita menderita Bronkopneumonia. Penyakit ini adalah peradangan dinding bronkiolus atau saluran napas kecil pada paru- paru.

Ingin mengulang pengalaman tersebut, ia pun kembali melakukan penggalnagn dana. Sukma memosting foto bayi asal Konsel ini ke facebook dengan meminta kepada dermawan dapat memberikan bantuanya. Dalam postingan tersebut ia juga menyampaikan bagi yang ingin menjenguk, dapat langsung mendatangi ruang perawatan bayi untuk memastikan.

Untuk penggalangan donasi Sukmawati meminta izin terlebih dahulu kepada orang tua sang bayi. Dengan persetujuan untuk sementara menggunakan rekening miliknya. Hal itu dilakukan lantaran rekening ayah sang bayi dorman atau rekening non aktif.

“Mendapati hal itu, suami saya yang juga bertugas di Puskesmas Antari Jaya juga menyampaikan ke saya akan bertanggungjawab jika saya memposting foto tersebut dengan meminta donasi atau bantuan serta mencantumkan nomor rekening saya,” ungkap Sukmawati.

Alhasil donasipun terus bermunculan dan mencapai angka belasan juta.

Mengenal Sosok Sukmawati, si Penggalang Dana untuk Bayi Ichthyosis Asal Konsel

Alasan lain rasa simpati itu muncul karena dia mengenal Jusman, ayah sang bayi yang lahir pada Jumat 1 Desember 2017 bekerja menjaga sawah milik ayah suaminya hingga menyemprotkan obat hama padi. Ia tahu jika keluarga kecil Jusman tergolong warga kurang mampu.

Ia pun mengakui jika setiap hari ada saja uang yang masuk dari para dermawan ke rekeningnya. Sebagai bukti ia pun menuliskan semua notifikasi sms banking yang masuk ke telepon selularnya

“Saya tulis semua mas, jamnya dan waktunya.Kalau nama kurang afdol mas. Intinya saya simpan semua bukti,” imbuhnya.

Senin (4/12/2017) donasi telah mencapai Rp13,4 juta. Dihari yang sama ia pun turun ke Kendari menemui orang tua bayi dan menyerahkan donasi secara langsung sekitar Rp8 juta. Sedangkan sisanya ditransferkan pada Rabu (6/12/2017) sebesar Rp5.480.000 ke rekening Jusman.

Sukmawati menambahkan sampai hari ini pun, sumbangan terus mengalir. Tapi ia menyampaikan kepada masyarakat untuk dapat langsung mengirimkan sumbangannya ke rekening ayah bayi Jusman.

Ibu bayi Jene mengatakan kepada zonasultra ia mengenal sosok Sukmawati yang bekerja sebagai perawat di Puskesmas SP 1 Atari Jaya.

“Saya kenal, dia perawat di puskesmas dan dia juga sudah telpon ka kalau mau menggalang dana,” ujarnya.

Waktu lahir, kulit bayi perempuan ini berwarna kecoklatan dan pecah-pecah serta tampak kemerahan. Matanya terlihat merah dengan kondisi mulut terbuka. Bayi ini juga memiliki gerakan yang sangat terbatas.

Penyakit ini merupakan kelainan genetik yang amat langka sehingga menyebabkan tubuh tidak memiliki kulit. Dilansir di Liputan6 menurut The Ichthyosis Support Group, sebagian besar bayi yang lahir dengan kondisi Harlequin Ichthyosis meninggal saat masih bayi mau pun belia. Jika ia tetap bertahan hidup, satu-satunya cara untuk merawatnya dengan pengobatan seumur hidup.

(Baca Juga : Bayi Perempuan Asal Konsel Diduga Mengidap Penyakit Langka)

Anak kedua dari pasangan Jene dan Jusman ini lahir dengan berat 2,1 kilogram dan panjang 30 cm.

Jene ketika dikonfirmasi zonasultra.id mengatakan tidak merasakan hal yang aneh saat mengandung. Semua berjalan dengan normal. Tidak ada makanan yang ia konsumsi berlebihan, serta tak ada firasat akan melahirkan anaknya dengan kondisi seperti itu.

“Waktu lahir keluar pantatnya duluan, pas keluar itu langsung duduk dan kakinya diselojor,” ungkap Jene.

Karena kondisinya kurang baik, bayi dilarikan ke RSUD Konsel. Tetapi tidak dapat diberikan pelayanan dan langsung dirujuk ke RSUD Bahteramas Provinsi Sultra, Sabtu (3/12/2017) sekitar pukul 13.00 Wita.

Saat ini bayi menerima perawatan khusus dari tenaga medis. Direktur RSUD Bahteramas Provinsi Sultra Yusuf Hamra mengungkapkan pengobatan bayi menggunakan Jaminan Persalinan (Jampersal) dan akan dintegrasikan di Jamkesda Bahteramas.

“Tidak ada alasan kami menelantarkan pasien, dan jika layak menerima bantuan ini pasti akan dibantu. Tidak perlu khawatir,” pungkasnya. (A)

 

Reporter : Ilham Surahmin
Editor : Tahir Ose