

Semua yang diusulkan dokter sudah masuk dalam master plan. Hanya saja ada beberapa yang belum dimasukkan seperti ruangan luka bakar.
“RSUD Kolaka ini membutuhkan listrik sebesar 0,8 mega. Disana ada lift pasien di beberapa titik. Dari UGD menuju ruangan bedah di lantai tiga yang berhadapan dengan kebidanan. Ada lift khusus petugas dan lift pengunjung,” kata Alim Bahri, Kamis (14/7/2016).
Sementara itu, Kadis Pekerjaan Umum Kolaka Andi Abbas Nuhung mengungkapkan, pembangunan RSUD Kolaka mulai dianggarkan tahun ini melalui APBD Perubahan sebesar Rp 75 milyar khusus bangunan dengan prediksi harga saat ini, dan belum termasuk peralatannya.
“Kami berharap dua tahun kedepan RSUD ini sudah bisa digunakan satu tower,” harap Abbas.
Sebelumnya, Direktur RS Benyamin Guluh Kolaka, dr Muhammad Hasbi Cukka dan beberapa dokter spesialis banyak memberikan masukan pada pembangunan RSUD Kolaka ini. Terutama berkaitan dengan akreditasinya, sebab akreditasi merupakan syarat ketika membangun RS. Selain itu, harus dipikirkan pasien kelas dua dan tiga, karena mereka menginginkan kenyamanan dalam berobat.
Selain itu, Hasbi juga menekankan pentingnya kualitas petugas dan dokter yang memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) handal, khususnya dokter spesialis.
Apalagi sampai hari ini dokter spesialis anastesi belum ada di RSBG, pad hal idealnya ahli anastesi harus ada. Tak kalah pentingnya kamar operasi paling tidak 5 kamar diantaranya bedah umum dan ortopedi, serta ruang isolasi untuk pasien infeksi maupun tetanus.
Sementara itu, Bupati Kolaka, Ahmad Safei yang membuka seminar itu mengaku optimis kalau rumah sakit itu bisa terbangun serta dimanfaatkan masyarakat Kolaka.
“Jangan ada kata-kata pesimis mengatakan, bisakah rumah sakit ini terbangun. Sebab kata-kata itu juga pernah dikatakan saat membangun bandara. Kenyataannya bisa terbangun,” tandasnya. (B)
Editor: Jumriati