Rasakan Sensasi Petualangan Alam Liar di Hutan Mangrove Butur

Rasakan Sensasi Petualangan Alam Liar di Hutan Mangrove Butur
Kawasan mangrove di Kabupaten Buton Utara (Butur) dengan luas kurang lebih 17.000 hektare, salah satu yang terluas dan terbesar di Indonesia. (Foto: Daru/Dispar Sultra)

ZONASULTRA.ID, BUTUR – Luas area mangrove di Kabupaten Buton Utara (Butur) kurang lebih 17.000 hektare. Hal ini menjadikan kawasan hutan mangrove ini sebagai salah satu yang terluas dan terbesar di Indonesia.

Sebagian besar area mangrove ini masuk dalam kawasan Hutan Lindung. Selain berbagai jenis mangrove dan vegetasi lainnya yang ada di dalamnya, juga terdapat berbagai satwa seperti burung, kepiting, penyu, hingga buaya muara. Bahkan di kawasan ini terdapat hewan endemik dan langka yakni Anoa.

Selain eksotis dan penuh kehidupan alam liar, kawasan mangrove ini tak terlepas dari kehidupan masyarakatnya. Terdapat aktivitas warga setempat seperti yang menangkap kepiting dengan bubu, membudi daya rumput laut, menjaring udang, dan berbagai aktivitas nelayan lainnya.

Di kawasan mangrove ini terdapat 3 Desa Wisata yakni Desa Koepisino Kecamatan Bonegunu, Desa Waodeburi Kecamatan Kulisusu Utara, dan Desa Langere Kecamatan Bonegunu. Tiga desa ini telah ditetapkan sebagai desa wisata berdasarkan Surat Keputusan (SK) Bupati Butur nomor 48 tahun 2019 tentang perubahan atas keputusan Bupati Butur nomor 382 tahun 2018.

Bagi Anda yang ingin bertualang ke kawasan ini dapat menempuh jalur darat dan jalur laut. Salah satu jalur yang disarankan adalah langsung menuju Desa Wisata Langere. Terdapat perahu penumpang dari Pelabuhan Ereke Kecamatan Kulisusu (pusat perkantoran kabupaten) menuju dermaga Desa Langere Kecamatan Bonegunu dengan biaya hanya Rp20 ribu per orang. Sementara akses Langere melalui darat tidak sepenuhnya jalan beraspal, sebagian masih jalan pengerasan.

Rasakan Sensasi Petualangan Alam Liar di Hutan Mangrove Butur
Pondok-pondok para nelayan di kawasan hutan mangrove Butur. Pondok ini digunakan untuk menjemur rumput laut. (Foto: Daru/Dispar Sultra)

Desa Langere dihuni oleh 999 jiwa yang masuk dalam 247 KK dengan pekerjaan kepala keluarga mayoritas nelayan. Rumah mereka berada di kawasan pesisir dengan konstruksi dari kayu dan sebagian lagi semi permanen.

Sekretaris Desa Langere, Naslim mengatakan untuk spot wisata di kawasan mangrove masih sangat alami. Belum ada bangunan-bangunan untuk keperluan wisata yang dibangun. Kendati begitu, wisatawan tetap dapat bertualang dengan menyewa perahu-perahu warga nelayan. Untuk biaya sewanya tergantung komunikasi tawar menawar dengan pemilik kapal.

Naslim mengakui pengelolaan dan pembangunan desanya sebagai destinasi wisata masih perlu berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata Butur. Termasuk, dalam waktu dekat ini pihaknya akan membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).

“Penginapan belum ada (homestay), kalau tamu kabupaten yang datang biasanya menginap di rumah perangkat desa, sementara tamu dari luar yang datang berjualan di sini biasanya menginap di rumah-rumah warga hanya saya kurang tahu disewa atau tidak,” ujar Naslim.

Naslim menyebut salah satu tokoh nasional yang pernah menelusuri kawasan mangrove Butur adalah Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko pada 18 Oktober tahun 2022. Moeldoko menjelajah hutang mangrove dengan menggunakan perahu dari pesisir Langere, Desa Koepisino, dan spot-spot lainnya.

Destinasi Wisata Petualangan dan Edukasi

Penggiat pariwisata di Sulawesi Tenggara yang pernah menjelajahi hutan mangrove Butur adalah Linto. Pemuda ini menjelajah dengan menyewa perahu warga di Desa Langere. Desa ini jadi tempat start awal untuk menjelajahi hutan mangrove.

BACA JUGA :  Sultra Tenun Karnaval 2023 Ditutup Meriah, 17 Kabupaten/Kota Tuntas Berlaga

Sewa perahu di Desa Langere tidak dipatok. Kata Linto, sewa perahu oleh warga setempat biasanya tergantung besar perahu, durasi, dan sejauh mana kawasan yang akan dijelajahi. Standar harga biasanya Rp200 ribu ke atas.

Rasakan Sensasi Petualangan Alam Liar di Hutan Mangrove Butur
Dengan menggunakan perahu, warga melintas di kawasan hutan mangrove Butur. (Foto: Daru/Dispar Sultra)

“Biasanya mereka sudah terbiasa, kalau ada orang luar yang mungkin mau menjelajahi hutan mangrove, nah mereka tawarkan jasa. Kalau penginapan secara resmi seperti homestay belum ada, tapi biasa jasa penginapan di wilayah Ereke. Dari Ereke juga sebenarnya bisa kalau mau langsung menjelajah mangrove-mangrove itu tinggal cari saja perahu di pesisir Ereke,” ujar Linto.

Dalam menjelajahi hutan mangrove itu, menurut Linto sensasinya mirip dengan menjelajahi hutan mangrove di Kalimantan dengan menggunakan perahu. Hutan mangrove Butur juga tak kalah dalam hal keanekaragaman satwa liar. Di beberapa muara sungai terdapat buaya, dan kawasan mangrove itu juga jadi habitat kawanan burung.

Karena terdapat buaya muara ini, Linto mengingatkan bagi yang berkunjung agar berhati-hati dan memperhatikan keselamatan. Dengan mempertimbangkan akses perjalanan dan besarnya tantangan yang ada di lokasi, Linto menilai destinasi ini sangat cocok untuk wisata petualangan dan sangat dibutuhkan oleh pencinta petualangan.

Linto menggolongkan destinasi wisata petualangan karena menjelajahi hutan mangrove ini memacu adrenalin dan ada kepuasan tersendiri, apalagi ketika mendayung perahu ke dalam luasnya kawasan hutan.

Selain itu, hutan mangrove Butur juga tepat jadi wisata edukasi. Di dalam hutan mangrove, Linto memperhatikan ada beberapa satwa liar yang dapat menjadi objek penelitian, salah satunya burung.

“Apakah burung-burung ini mengikuti musim berpindah ke tempat lain atau stanby di sana ini masih perlu penjelasan. Kalau waktu Magrib itu burung-burung pulang dan masuk ke dalam bakau,” ujar Linto.

Setelah menjelajahi hutang mangrove tersebut, Linto sangat merekomendasikannya dan layak untuk wisata petualangan. Hanya memang kata dia, seperti destinasi wisata yang satu ini masih kurang digaungkan, selain itu juga minim fasilitas.

Pemerhati Pariwisata Sulawesi Tenggara, Ahmad Nizar mengatakan kawasan hutan mangrove Butur sangat potensial menjadi kawasan wisata, khususnya untuk kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam (ecotourism/ekowisata). Dengan Luasan area mangrove kurang lebih 17.000 hektare dan hampir semua area mangrove terlabel sebagai Hutan Lindung.

“Kemungkinan penting untuk dijadikan isu ke depan adalah deforestation dan mining, mengingat ada sejumlah desa di dalam kawasan hutan mangrove tersebut,” ujar Ino, sapaan akrabnya.

Menurut dia, yang menjadi penting adalah penguatan kapasitas dan pemahaman masyarakat di kawasan mangrove terkait lingkungan, hingga menjaga kawasan mangrove sebagai sumber kehidupan mereka. Masyarakat juga perlu dijadikan sebagai penggerak utama dalam perencanaan menjadikan kawasan mangrove tersebut sebagai kawasan wisata ecotourism ke depannya.

BACA JUGA :  Dispar Sultra Luncurkan Aplikasi “Maimo”, Berisi Tentang Informasi Wisata

Ini juga, lanjut dia, menjadi perhatian penting pemerintah setempat, bagaimana penguatan pengembangan pariwisata di kawasan mangrove ini bukan sekadar membangun fisik, namun yang diutamakan membangun manusianya dulu.

Peluang menjadi kawasan ecotourism sangat besar digerakkan di kawasan ini, apalagi pemerintah provinsi sulawesi tenggara telah menjadikan kawasan Hutan Mangrove Butur dalam 7 destinasi unggulan yang dikemas dalam program Seven Wonder South East Sulawesi.

Arah Pengembangan Wisata

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Butur merespon apreseasi dari Pemerintah Provinsi Sultra yang menjadikan Butur menjadi salah satu dari Seven Wonders dengan telah mulai mengadakan sosialisasi yang intens pada masyarakat tentang pengembangan ekowisata dengan menerapkan pariwisata berbasis masyarakat.

Rasakan Sensasi Petualangan Alam Liar di Hutan Mangrove Butur
Vegetasi mangrove di Butur. (Foto: Daru/Dispar Sultra)

Dalam mengembangkan pariwisata, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Butur telah menentukan beberapa Kawasan Pengembangan Pariwisata yang juga memiliki spot mangrove dan menjadikan beberapa desa di dalamnya menjadi Desa wisata, seperti: Desa Langere, Desa Koepisino, Desa Waodeburi, Lamoahi, Oengkapala dan Desa Banu-Banua jaya.

Dengan kondisi tersebut, Pemerintah Daerah Butur dapat dengan mudah mengembangkan wisata mangrove, memproteksi hutannya, dan sekaligus meningkatkan pemberdayaan masyarakat melalui program budi daya yang dapat dilakukan pada kawasan mangrove dan sekitarnya.

Kepala Bidang Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata Dinas pariwisata dan Kebudayaan Butur, La Ode Ahmad Ready Putra mengatakan pada umumnya masyarakat Butur di sekitar kawasan mangrove memanfaatkan ekosistem mangrove sebagai lokasi untuk mendapatkan udang dan kepiting. Selain itu, hasil pohon bakau dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan sampai bahan pewarna. Pada area mangrove pun terdapat potensi lain seperti madu alam.

Keberadaan kawasan mangrove sangat menguntungkan bagi masyarakat lokal di mana kawasan ini masih dapat dimaksimalkan potensinya. Potensi yang dapat dimanfaatkan dengan cara budi daya antara lain, potensi budi daya kepiting bakau, budi daya udang dengan karamba, budi daya madu hutan, dan rumput laut.

”Selain itu, keindahan kawasan mangrove dan sekitarnya menjadi potensi yang sangat baik dimanfaatkan sebagai kawasan wisata. Potensi keindahan pantai dan keberadaan satwa endemik dan langka seperti Anoa, keberadaan buaya akan sangat mendukung pengembangan pariwisata kedepan,” ujar Didi, sapaan akrabnya.

Lanjut dia, yang lebih penting lagi, tutupan mangrove dan kerapatan yang sangat padat menjadi potensi cadangan karbon yang menjadi sumbangan Butur bagi dunia. Masyarakat lokal masih memanfaatkan kayu bakau sebagai material untuk shelter nelayan.

Dalam kaitannya dengan kunjungan wisata, Didi mengakui belum tersedia statistik yang menggambarkan kunjungan wisata khusus untuk kawasan mangrove. Namun, dari kunjungan wisatawan yang datang ke Butur, wisatawan domestik maupun wisatawan manca negara sangat antusias dengan keberadaan hutan mangrove di Butur. (*)

 


Editor: Muhamad Taslim Dalma

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini