Ajaran untuk Kerja Keras dan Gotong-royong dari Tari Modinggu

180
Ajaran untuk Kerja Keras dan Gotong-royong dari Tari Modinggu
Para penari dari Sanggar Seni Ana Sepu Sorume yang menampilkan tari modinggu atau alu-alu mb. Mereka memegang alu (alat menumbuk) sebagai properti untuk menari. (Foto: IG @sanggar_anasepu_sorume)

ZONASULTRA.ID, KENDARI – Tari modinggu atau dikenal juga dengan tari dinggu adalah salah satu tarian tradisional yang diprakarsai oleh masyarakat suku Tolaki, Sulawesi Tenggara (Sultra). Tarian ini menggambarkan tentang bagaimana bekerja keras dan semangat gotong-royong masyarakat Tolaki saat musim panen padi tiba.

Tari dinggu diperkirakan hadir pada abad ke-14 sejak masyarakat Tolaki mulai menjadikan padi atau beras sebagai bahan makanan pokok.

Modinggu berasal dari bahasa Tolaki, terdiri atas dua kata, yaitu “mo” dan “dinggu”. Mo adalah kata depan yang berarti pelaku dan dinggu berarti sentuh atau bersentuhan. Bersentuhan yang dimaksud adalah antara lesung dan alu sehingga mengeluarkan bunyi.

Menurut Ajemain Suruambo, tokoh adat sekaligus budayawan Tolaki, secara umum tari modinggu menggambarkan suasana dan aktivitas masyarakat Tolaki saat musim panen padi. Tari dinggu ini merepresentasikan luapan kegembiraan dan rasa syukur masyarakat saat panen padi.

Berdasarkan sejarah, pada zaman dulu masyarakat Tolaki memanen padi dengan cara bergotong-royong, mulai dari memetik padi, mengangkat padi, dan lain-lain. Setelah panen selesai dan padi terkumpul semua, diadakan acara modinggu, yaitu bersama-sama menumbuk padi hasil panen yang dilakukan oleh para muda-mudi.

“Kegiatan menumbuk padi inilah yang menjadi cikal bakal hadirnya tari dinggu yang terus dikembangkan sampai sekarang,” ujar Ajemain.

Pada umumnya, tarian modinggu ini ditampilkan oleh penari laki-laki dan wanita. Dalam pertunjukannya, penari menggunakan kostum layaknya para petani dan menari dengan membawa sejenis alu, tampah, dan lesung yang digunakan sebagai properti menarinya.

Dikatakan Ajemain, pada awalnya musik pengiring tari dinggu hanya bunyi alu dengan lesung. Setelah berkembang, musik pengiringnya kini ada gong, gendang, ndengu-ndengu, bahkan suling bambu.

“Dulu musik pengiringnya ya hanya dari suara alu dengan lesung itu saja. Kalau ada sekarang yang menggunakan gong sebagai musik pengiring itu merupakan bentuk kreasi,” ujar Ajemain.

Selain tari modinggu, dikenal pula tari alu-alu mbae. Kedua tarian ini adalah sama. Namun yang membedakannya hanya penari, jumlah penari, dan properti yang digunakan.

H. Darma, pemilik Sanggar Ana Sepu Sorume mengatakan, ada beberapa perbedaan tari dinggu dan alu-alu mbae, seperti tari dinggu dipentaskan oleh penari laki-laki dan perempuan, sementara tari alu-alu mbae khusus untuk perempuan saja.

Perbedaan lainnya tari dinggu dipentaskan oleh 10-12 orang penari, enam orang perempuan menempati posisi sebagai penampi, sisanya empat orang perempuan sebagai penumbuk padi, dan dua laki-laki sebagai pemegang alu. Sedangkan tari alu-alu mbae hanya empat orang penari perempuan saja yang memegang alu.

Kemudian dalam tarian dinggu, terdapat penari yang membawa tampah, sedangkan dalam alu-alu mbae tidak terdapat. Namun properti utama yang digunakan tetap sama yaitu alu dan lesung.

Tari dinggu maupun tari alu-alu mbae sangat dikenal di masyarakat Tolaki sehingga ditampilkan di berbagai acara seperti pesta panen raya, penyambutan tamu, perayaan hari besar, festival budaya, perlombaan, dan lain-lain.

Kostum dan Gerakan Tari Dinggu

Untuk kostum tari dinggu, penari laki-laki mengenakan baju berlengan pendek atau berlengan panjang dengan motif menyerupai pakaian khas Melayu, dipadukan dengan celana berukuran sampai betis yang warnanya disesuaikan dengan warna baju. Kemudian sarung yang dililit di daerah pinggang. Motif sarung beraneka ragam tergantung yang diinginkan, tetapi masih dalam kategori motif khas suku Tolaki.

Tak ketinggalan penari laki-laki memakai ikat kepala yang tinggi. Motif ikat kepala ini biasa senada dengan sarung yang dililitkan di daerah pinggang. Selain ikat kepala, biasanya digantikan dengan caping, yaitu topi khas petani.

Ajaran untuk Kerja Keras dan Gotong-royong dari Tari Modinggu
Gerakan tari modinggu. (Gambar: Youtube @lpsnjakarta)

Sementara penari perempuan mengenakan baju berlengan pendek dengan potongan sepinggang. Pada bagian leher diberi hiasan sulaman benang emas dengan sedikit belahan. Pada bagian kiri dan kanan atas dada diberi hiasan motif menyerupai ani-ani, alat yang digunakan untuk memotong padi.

Untuk bawahannya, penari perempuan mengenakan rok yang panjangnya sampai pergelangan kaki. Rok ini berwarna cerah dan masih menggunakan motif khas suku Tolaki. Kemudian ditambahkan aksesoris berupa hiasan kepala, ikat pinggang, dan gelang.

Berdasarkan hasil penelitian Syamsul Bahri, staf peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan, yang berada di bawah Kemendikbudristek, tari dinggu memiliki gerakan yang penuh semangat dan kekompakan. Hal ini bisa dilihat melalui gerakan penari ketika menumbuk lesung dengan menggunakan alu secara bersamaan.

Selain itu, gerakan tari dinggu juga lebih variatif dan sarat akan gambaran kehidupan suku Tolaki pada zaman dahulu, khusunya di kalangan kaum petani.

Dalam pertunjukan tari dinggu biasanya terdapat beberapa babak yang menggambarkan aktivitas para petani saat panen. Dimulai dari membawa padi, menaruh padi, menumbuk padi, membersihkan padi, dan diakhiri dengan gerakan lulo.

Gerakan penari pria dan penari wanita dalam tari dinggu ini pada dasarnya berbeda. Pada gerakan penari pria biasanya didominasi dengan gerakan memainkan alu dan gerakan yang dilakukan lebih lincah. Sedangkan pada gerakan penari wanita biasanya didominasi dengan gerakan yang pelan kecuali pada gerakan menumbuk padi dan melakukan lulo.

Makna Gerakan Tari Dinggu

Masih dalam penelitian Syamsul Bahri, secara pribadi, tari dinggu banyak mengajarkan seseorang untuk menjadi pribadi yang bekerja keras dan tidak mudah menyerah. Hal ini tersirat dalam gerakan tari dinggu yang memberikan gambaran betapa semangatnya kehidupan masyarakat zaman dulu yang ulet dalam bekerja.

Gerakan penuh kecekatan dalam menumbuk padi di dalam lesung bermakna untuk mendapatkan sesuatu dibutuhkan kerja keras dan usaha berproses. Tidak ada hasil yang muncul begitu saja tanpa adanya tenaga dan rasa lelah.

Dari segi sosial, tari dinggu juga memiliki makna bahwa sesama manusia harus saling tolong-menolong. Tidak ada satu manusia pun yang bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Termasuk dalam proses pengerjaan padi menjadi beras.

Dalam tari ini digambarkan ada beberapa tahap yang harus dilewati dan dilakukan petani sebelum bisa mengonsumsi nasi. Sebagai sumber makanan yang mengandung karbohidrat, beras tidak bisa dikonsumsi begitu saja, tetapi butuh tahap pengerjaan yang tidak singkat dan butuh kerja sama.

Dalam tari dinggu ada gerakan penari mengelilingi lesung dan membentuk satu lingkaran. Lingkaran yang dibentuk bermakna sebagai siklus hidup manusia. Manusia hidup dilahirkan dan mati dengan kematian.

Selain bermakna sebagai siklus hidup, lingkaran yang dibentuk juga merupakan representasi dari kalo. Kalo adalah alat pemersatu pada suku Tolaki.

Selain gerakan membentuk lingkaran, terdapat juga gerakan membungkuk. Gerakan ini memiliki makna bahwa manusia akan kembali ke asal, yaitu tanah. Manusia yang diciptakan dari genggaman tanah pada akhirnya akan menemui ajalnya dan kembali di kubur di dalam tanah. Gerakan ini kembali mengingatkan kita kepada Tuhan dan senantiasa mengingat akan dosa serta kesalahan yang telah dilakukan.

Tidak lupa dalam tari ini terdapat gerakan penyembahan. Tangan disatukan dan seakan-akan memberikan hormat. Tujuan gerakan tersebut adalah sebagai wujud rasa syukur kepada Dewi Padi yang sudah memberikan panen berlimpah.

Masyarakat petani pada zaman dahulu percaya segala keberuntungan dan keberkahan dari segi pertanian, yakni pertolongan dari Dewi Padi. Wujud dari Dewi Padi sendiri dilegendakan berupa sosok ular sawah dan burung walet. Dia menjaga sawah dengan memangsa tikus yang menjadi hama dan dapat menggagalkan panen petani.

Keberadaan Dewi Padi sangat diagungkan dan dimuliakan karena dianggap sebagai penguasa alam. Namun, jika dimaknai pada saat ini gerakan ini telah bergeser menjadi ungkapan terima kasih dan syukur kepada

Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberikan keberhasilan dalam panen. Pergeseran makna ini terjadi karena masyarakat suku Tolaki yang sudah mengenal dan menganut satu agama.

Jika dilihat dari segi kepercayaan yang masih mengandung animisme dan dinamisme, masyarakat percaya bahwa setiap bulir beras memiliki jiwa atau nyawa. Setiap bulir itu hidup dan tidak boleh disia-siakan. Terdapat unsur pemali yang sampai sekarang masih dipercaya yang menyatakan bahwa “Tidak boleh menyisakan nasi satu bulir pun di atas piring, kalau ada yang tersisa maka bulir nasi tersebut akan menangis”.

Oleh sebab itu, seseorang tidak boleh sesuka hati membuang makanan secara sengaja ataupun tidak sengaja karena setiap bulir nasi membutuhkan proses yang tidak mudah untuk sampai bisa dikonsumsi. (*)

 


Editor: Jumriati

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini