27.8 C
Kendari
Senin, 22 Juni 2026
iklan zonasultra
Beranda Artikel Kampus Dosen UMW Kendari Kembangkan Model Pencegahan Eating Disorder Berbasis Dukungan Sekolah dan...

Dosen UMW Kendari Kembangkan Model Pencegahan Eating Disorder Berbasis Dukungan Sekolah dan Keluarga

46
Dosen UMW Kendari Kembangkan Model Pencegahan Eating Disorder Berbasis Dukungan Sekolah dan Keluarga
Tim peneliti dari Universitas Mandala Waluya melaksanakan penelitian fundamental yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Republik Indonesia, di SMAN 6 Kendari, pada Senin, 15 Juni 2026.

ZONASULTRA.ID, KENDARI– Tim peneliti dari Universitas Mandala Waluya melaksanakan penelitian fundamental yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Republik Indonesia, di SMAN 6 Kendari, pada Senin, 15 Juni 2026.

Penelitian tersebut mengangkat judul “Co-Design Model Pencegahan Eating Disorder Berbasis Adolescent Brain and Cognitive Development (ABCD) dengan Sistem Dukungan Tripartit: Siswa–Guru–Orang Tua”.

Penelitian ini dipimpin oleh Anisa Purnamasari, sebagai Ketua Peneliti, dengan anggota tim peneliti yaitu Jabbal Apriawal, Psikolog dan Cici Yusnayanti. Tim peneliti merupakan dosen Universitas Mandala Waluya Kendari yang memiliki kepakaran di bidang keperawatan, psikologi, kesehatan mental, dan kesehatan remaja.

Kegiatan ini bertujuan mengembangkan model konseptual pencegahan eating disorder berbasis Adolescent Brain and Cognitive Development (ABCD) melalui pendekatan Research and Development (R&D) berbasis co-design dengan sistem dukungan tripartit yang melibatkan siswa, guru, dan orang tua.

Ketua Peneliti, Anisa Purnamasari menjelaskan bahwa penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya prevalensi eating disorder (ED) atau gangguan makan pada anak dan remaja, baik di tingkat global maupun nasional.

Menurutnya, kondisi ini menjadi perhatian serius karena tidak hanya berdampak pada status gizi dan kesehatan fisik, tetapi juga berpengaruh terhadap kesehatan mental, fungsi sosial, prestasi akademik, serta kualitas hidup remaja.

BACA JUGA :  Prodi S1 Kesmas UMW Kendari Tingkatkan Literasi Pencegahan Penyakit Tidak Menular di Desa Nii Tanasa

“Berbagai laporan menunjukkan bahwa remaja merupakan kelompok yang rentan mengalami gangguan makan akibat pengaruh perubahan biologis, psikologis, sosial, dan lingkungan yang terjadi selama masa perkembangan,” katanya melalui rilis pers pada Sabtu (20/6/2026)

“Di Indonesia, upaya pencegahan eating disorder berbasis sekolah masih menghadapi berbagai tantangan. Program yang tersedia umumnya belum terstruktur secara sistematis, kurang mempertimbangkan konteks perkembangan remaja, dan belum mengintegrasikan peran penting siswa, guru, serta orang tua dalam satu sistem dukungan yang berkelanjutan,” lanjutnya

Sebagai Dosen di UMW Kendari, ia mengukapkan bahwa masa remaja merupskan periode penting dalam perkembangan otak dan fungsi kognitif. Oleh karena itu, pendekatan pencegahan eating disorder perlu dirancang sesuai dengan karakteristik perkembangan neurokognitif remaja agar lebih efektif dan mudah diterima.

“Remaja mengalami perubahan yang sangat pesat dalam perkembangan otak, kemampuan berpikir, pengambilan keputusan, dan pengendalian emosi. Oleh karena itu, model pencegahan yang dikembangkan harus mampu menjawab kebutuhan perkembangan tersebut dan melibatkan lingkungan terdekat remaja, yaitu sekolah dan keluarga,” ungkapnya

Daam metode penelitian menggunakan desain mixed methods explanatory sequential yang terbagi dalam dua tahapan. Tahapan pertama adalah penelitian kualitatif melalui Focus Group Discussion (FGD) berbasis co-design yang melibatkan siswa, guru, dan orang tua untuk mengeksplorasi kebutuhan, persepsi risiko, pengalaman, serta tantangan dalam pencegahan eating disorder di lingkungan sekolah.

BACA JUGA :  Mahasiswa KKN UMW Kendari, Berikan Edukasi Pentingnya jaga Kesehatan di Desa Lakomea

Tahap kedua adalah penelitian kuantitatif yang bersifat deskriptif untuk menilai kelayakan konseptual model dan prototipe awal berdasarkan aspek usability, acceptability, dan relevance. Tahapan ini bertujuan memastikan bahwa model yang dikembangkan mudah digunakan, dapat diterima oleh seluruh pemangku kepentingan, dan relevan dengan kebutuhan sekolah serta karakteristik perkembangan remaja.

“Salah satu inovasi utama dalam penelitian ini adalah penggunaan instrumen skrining SCOFF yang telah diadaptasi sebagai alat deteksi dini non-klinis risiko eating disorder. Instrumen tersebut kemudian diintegrasikan dengan edukasi neurokognitif berbasis ABCD serta sistem pemantauan kolaboratif yang melibatkan siswa, guru, dan orang tua dalam satu kerangka pencegahan yang komprehensif,” ujarnya

Sementara itu, tim peneliti menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia atas dukungan pendanaan yang diberikan melalui Skema Penelitian Fundamental Tahun 2026.

“Terima kasih kepada Kepala SMAN 6 Kendari, para guru, siswa, serta orang tua yang telah berpartisipasi aktif dan memberikan dukungan penuh selama pelaksanaan penelitian,” tutupnya. (*)