23.3 C
Kendari
Minggu, 19 April 2026
iklan zonasultra
Beranda Daerah Sultra Raya Genjot Program Upsus Siwab, Ini Kendala yang Dihadapi Distanak Sultra

Genjot Program Upsus Siwab, Ini Kendala yang Dihadapi Distanak Sultra

297
Genjot Program Upsus Siwab, Ini Kendala yang Dihadapi Distanak Sultra
RAPAT KOORDINASI - Rapat Koordinasi, Supervisi, dan Evaluasi oleh Tim Baharkam Polri dan Direktoral Jenderal Perternakan dan Kesehatan Hewan dalam kegiatan Pengendalian Pemotongan Ternak Ruminansia Betina Produktif Provinsi Sulawesi Tenggara disalah satu hotel di Kendari, Senin (16/10/2017). (Sitti Nurmalasari/ZONASULTRA.COM)

Genjot Program Upsus Siwab, Ini Kendala yang Dihadapi Distanak Sultra RAPAT KOORDINASI – Rapat Koordinasi, Supervisi, dan Evaluasi oleh Tim Baharkam Polri dan Direktoral Jenderal Perternakan dan Kesehatan Hewan dalam kegiatan Pengendalian Pemotongan Ternak Ruminansia Betina Produktif Provinsi Sulawesi Tenggara disalah satu hotel di Kendari, Senin (16/10/2017). (Sitti Nurmalasari/ZONASULTRA.COM)

 

ZONASULTRA.COM, KENDARI – Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan (Distanak) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) meminta dukungan pendanaan dari pemerintah pusat melalui Direktoral Jenderal (Ditjen) Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian untuk menggenjot program upaya khusus (Upsus) sapi indukan wajib bunting (Siwab).

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Sultra Muhammad Nasir mengatakan, untuk menggenjot upsus siwab, pertama perlu mendapatkan dukungan berupa penambahan tenaga medis veteriner.

Sebab, tenaga medis yang dimiliki hanya ada 23 orang yang terdiri dari lima di provinsi, lima di Kabupaten Muna, sementara daerah lainnya hanya memiliki satu dokter hewan. Nasir mengusulkan agar pemerintah pusat bisa menfasilitasi tenaga medis yang membantu pelaksanaan kegiatan peternakan di Sultra.

“Kota Kendari malah cuman memiliki satu tenaga medis. Kami masih kesulitan tenaga medis, dalam hal pemeriksaan dan masalah penanganan kesehatan hewan,” ungkap Nasir saat rapat koordinasi, supervisi, dan evaluasi di salah satu hotel di Kendari, Senin (18/10/2017) malam.

Selain itu, merevitalisasi rumah potong hewan (RPH) dan pembangunan RPH baru di kabupaten sentra sapi yang belum memiliki RPH. Sebab, Distanak mencatat di Sultra hanya terdapat lima RPH dari 17 kabupaten dan kota yang ada.

Seharusnya bisa ada minimal 9 RPH di daerah sentra produksi sapi. Seperti diketahui di Konsel populasi sapi sangat luar biasa namun tidak terdapat RPH, Bombana, Kolaka Timur, Muna Barat juga demikian.

“Setidak-tidaknya di empat kabupaten ini yang kami prioritaskan untuk dibangun RPH. Sedangkan yang sudah ada tinggal ditingkatkan kapasitasnya dan dioptimalkan,” tambahnya.

Lanjutnya, revitalisasi teknologi sexing untuk kelahiran jantan, sebagai jalan keluar untuk tidak hanya memperbanyak kelahiran sapi betina, tetapi juga sapi jantan. Serta dukungan operasional tenaga Polri dalam pengawasan pengendalian betina produktif. Sehingga, pelaksanaan sosialisasi, pengawalan, monitoring, evaluasi, dan pembinaan pemahaman kepada masyarakat bisa berjalan dengan lancar.

Dalam paparannya, dia juga menyebutkan di Sultra belum tersedia pasar ternak. Hanya tersedia pasar bebas dimana pembeli yang datang baik menjelang hari raya keagamaan dan tahun baru di tujuh sentra yaitu Konawe Selatan, Bombana, Muna, Konawe, Kolaka, Muna Barat, dan Kolaka Timur.

Jika hanya untuk memenuhi pasar lokal, Sultra tidak mengalami masalah. Dalam setiap hari raya pun, Sultra tidak pernah mengalami kelangkaan dan harga pun relatif stabil. Adapun harga naik masih dalam batas kewajaran Rp 120.000 ribu per kilogram, itupun terjadi pada puncak hari raya.

“Jika terjadi kekurangan ketersediaan misal di Kota Kendari maka tinggal didatangkan dari kabupaten penyangga,” tukasnya. (A)

 

Reporter: Sitti Nurmalasari
Editor: Jumriati