
Peringatan Hari Olahraga Nasional (HAORNAS) ke-43 tahun 2026 yang mengusung tema “Menuju Masyarakat Aktif dan Bugar!” hadir sebagai momentum koreksi diri bagi seluruh elemen bangsa.
Gerakan melangkah, berlari, dan aktif berolahraga kini disuarakan lebih nyaring di berbagai penjuru negeri, tak terkecuali di tanah Sulawesi Tenggara. Namun, sebagai akademisi dan praktisi gizi olahraga, ada satu pertanyaan mendasar yang perlu kita renungkan Bersama : Apakah masyarakat kita yang aktif bergerak sudah otomatis menjadi masyarakat yang bugar ? Jawabannya adalah belum tentu.
Aktivitas fisik berdurasi tinggi tanpa ditopang oleh kecukupan gizi yang presisi hanya akan melahirkan kelelahan kronis, cedera otot, hingga penurunan daya tahan tubuh. Bugar bukan sekadar sanggup menghabiskan waktu berjam-jam di lapangan atau membakar ribuan kalori dalam seminggu.
Kebugaran sejati (fitness) adalah kemampuan tubuh untuk melakukan aktivitas harian tanpa mengalami kelelahan yang berarti, serta masih memiliki energi cadangan untuk menikmati waktu luang. Di sinilah Gizi Olahraga memegang peran sentral sebagai “Fuel” mesin penggerak utama dari setiap gerakan.
Dua Sisi Mata Uang : Gerak Fisik dan Asupan Nutrisi
Masyarakat Sulawesi Tenggara memiliki potensi fisik yang sangat luar biasa. Posisi geografisnya yang membentang dari wilayah kepulauan hingga daratan memberi ruang aktivitas fisik yang beragam, mulai dari tradisi melaut, bertani, hingga tingginya antusiasme olahraga masyarakat perkotaan. Kendati demikian, fenomena undernutrition (kekurangan gizi) dan overnutrition (gizi lebih) masih menjadi tantangan di daerah kita.
Banyak masyarakat yang mulai giat berolahraga, namun terjebak dalam mitos gizi yang keliru, seperti memangkas Karbohidrat secara ekstrem saat beraktivitas berat, meminum minuman berenergi tinggi gula secara berlebihan, atau mengabaikan pentingnya hidrasi dan pemulihan (recovery). Tanpa pemahaman gizi olahraga yang memadai, niat untuk bugar justru berisiko mendatangkan masalah kesehatan baru.
Aktivitas fisik dan nutrisi tepat adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Jika olahraga adalah stimulan untuk membentuk otot dan memperkuat jantung, maka gizi olahraga adalah bahan baku pembuatnya. Mengabaikan gizi dalam program olahraga sama saja dengan memaksa mesin kendaraan bekerja tanpa minyak pelumas dan bahan bakar yang sesuai.
Mengoptimalkan Pangan Lokal Bumi Anoa sebagai Sport Food
Sulawesi Tenggara dikaruniai kekayaan pangan lokal yang melimpah dan memiliki profil nutrisi sangat ideal untuk menunjang aktivitas fisik. Kita tidak perlu bergantung pada suplemen Impor yang mahal untuk menjadi bugar dan berprestasi.
Pangan lokal seperti sagu, umbi-umbian, dan jagung adalah sumber karbohidrat kompleks berkualitas tinggi dengan indeks glikemik yang sangat baik untuk menjaga stamina saat berolahraga. Hasil laut Sulawesi Tenggara mulai dari ikan segar, cumi, hingga rumput laut merupakan sumber protein tinggi serta asam lemak esensial yang mempercepat pemulihan jaringan otot pasca-latihan.
Sementara itu, buah-buahan lokal seperti pisang goroho, pepaya, serta air kelapa murni adalah sumber elektrolit dan antioksidan alami terbaik untuk mencegah dehidrasi serta menangkal radikal bebas.
Membumikan gizi olahraga di Sulawesi Tenggara berarti mengarahkan masyarakat untuk bangga dan paham cara memanfaatkan kearifan pangan lokal sendiri sebagai pendorong kebugaran harian.
Sinergi Edukasi dan Komitmen Bersama
Mewujudkan masyarakat Sulawesi Tenggara yang aktif dan bugar memerlukan langkah strategis dan berkelanjutan dari seluruh pihak :
Literasi Gizi Olahraga Massal: Mengikis mitos diet ekstrem dan memberikan edukasi pemenuhan makronutrisi (karbohidrat, protein, lemak) serta mikronutrisi (vitamin, mineral, air) yang proporsional bagi masyarakat awam maupun pegiat olahraga.
Penguatan Peran Akademisi dan Organisasi: Poltekkes Kemenkes Kendari bersama PD ISNA Sultra berkomitmen untuk terus berada di garis depan dalam mencetak tenaga gizi yang adaptif, melakukan pengabdian masyarakat, serta mendampingi komunitas olahraga lokal.
Integrasi di Fasilitas Publik: Mendorong ruang publik seperti car free day, fasilitas olahraga, dan sekolah di Sultra untuk tidak hanya menyediakan sarana berolahraga, tetapi juga akses terhadap pilihan makanan dan minuman yang sehat serta teredukasi.
Pada peringatan HAORNAS ke-43 tahun 2026 ini, mari kita bersama-sama mengubah paradigma. Jangan biarkan tubuh kita bergerak dalam keadaan “kelaparan” nutrisi. Dari Bumi Anoa, mari kita bangkitkan budaya aktif dan bugar yang tidak hanya mengandalkan semangat bergerak, tetapi juga ditopang oleh piring makan yang berizi dan seimbang. Sebab, masyarakat yang bugar adalah fondasi utama bagi Sulawesi Tenggara yang kuat, produktif, dan berprestasi.
Penulis: Dr. Rita Irma, SST,MPH, Dietisien
(Dosen Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Kendari – Ketua PD. Indonesia Sport Nutritionist Association (ISNA) Sulawesi Tenggara)












