
ZONASULTRA.ID, KONAWE SELATAN, – Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Kendari menggelar Praktik Kerja Lapangan Terpadu (PKLT) Desa berbasis Interprofessional Education (IPE) dan Interprofessional Collaboration (IPC) di Kecamatan Lainea, Kabupaten Konawe Selatan.
Kegiatan yang berlangsung selama 12 hari, mulai tanggal 2 hingga 13 Februari 2026, dengan mengusung tema “Pelaksanaan Intervensi SEMANGAT” sebagai upaya meningkatkan status kesehatan masyarakat melalui integrasi pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat.
Program ini tidak hanya berorientasi pada pemenuhan pembelajaran praktik mahasiswa, tetapi juga diarahkan untuk membangun pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan skrining, edukasi, penguatan perilaku hidup sehat, dan tindak lanjut permasalahan kesehatan.
Di balik pengembangan konsep kegiatan ini, Dr. Lilin Rosyanti, selaku Ketua Pelaksana PKLT Desa Terpadu, merupakan penggagas inovasi SEMANGAT yang dikembangkan sebagai pendekatan intervensi kesehatan masyarakat dalam pelaksanaan PKLT Desa.
Gagasan tersebut berangkat dari pemikiran perlunya mengembangkan model praktik lapangan terpadu yang tidak sekadar menggabungkan mahasiswa dari berbagai program studi dalam satu lokasi pengabdian, tetapi juga memiliki kerangka intervensi yang terarah, sistematis, terukur, dan berkelanjutan.
Melalui konsep SEMANGAT, PKLT Desa dikembangkan menjadi pendekatan pengabdian masyarakat inovatif yang mengintegrasikan pendidikan interprofesional dengan pemberdayaan masyarakat. Model ini dirancang untuk menghubungkan kompetensi berbagai profesi kesehatan dalam mengidentifikasi, menangani, dan menindaklanjuti permasalahan kesehatan masyarakat desa.
Sebagai penggagas sekaligus Ketua Pelaksana, Dr. Lilin Rosyanti berperan dalam merumuskan tema dan konsep inovasi, mengembangkan kerangka program, merancang tahapan intervensi, serta mempersiapkan berbagai perangkat pendukung yang menjadi landasan pelaksanaan kegiatan.
Adapun itu, SEMANGAT dikembangkan sebagai model pendekatan intervensi yang mencakup delapan komponen terintegrasi, yaitu:
1. S – Skrining: Identifikasi dan deteksi dini masalah kesehatan masyarakat.
2. E – Edukasi: Peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai perilaku hidup sehat.
3. M – Mobilisasi Masyarakat: Penguatan partisipasi masyarakat dalam gerakan kesehatan.
4. A – Asupan Gizi: Peningkatan kesadaran dan praktik pemenuhan gizi keluarga.
5. N – Navigasi Layanan Imunisasi: Penguatan akses dan navigasi masyarakat terhadap pelayanan kesehatan.
6. G – Gerakan Keluarga Sehat: Pemberdayaan keluarga sebagai unit utama peningkatan derajat kesehatan.
7. A – Aktivitas Fisik: Mendorong aktivitas fisik dan perilaku hidup aktif.
8. T – Tindak Lanjut: Penguatan tindak lanjut permasalahan kesehatan melalui koordinasi dengan kader dan fasilitas pelayanan kesehatan.
Kedelapan komponen tersebut dirancang untuk menjawab permasalahan kesehatan masyarakat secara komprehensif dengan menempatkan masyarakat sebagai subjek dan mitra aktif dalam proses perubahan perilaku kesehatan.
Dalam pelaksanaan program diarahkan pada penerapan komponen SEMANGAT sesuai kebutuhan dan karakteristik masyarakat desa. Mahasiswa berkolaborasi dalam kegiatan identifikasi masalah kesehatan, edukasi masyarakat, pendampingan keluarga, penguatan perilaku hidup sehat, serta pelaksanaan intervensi sesuai kompetensi masing-masing program studi.
Pelaksanaan PKLT Desa terpadu dengan inovasi SEMANGAT tidak terlepas dari dukungan pimpinan dan seluruh sivitas akademika Poltekkes Kemenkes Kendari.
Dr. Lilin Rosyanti menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada Direktur Poltekkes Kemenkes Kendari, Bapak Teguh Fathurrahman, atas arahan, dukungan, kepercayaan, dan kebijakan yang diberikan sehingga gagasan inovasi PKLT Desa dapat dipersiapkan dan diimplementasikan.
Apresiasi juga disampaikan kepada seluruh jajaran pimpinan, para Wakil Direktur, Ketua Jurusan, Ketua Program Studi, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta seluruh sivitas akademika Poltekkes Kemenkes Kendari yang telah memberikan dukungan dan kontribusi dalam proses persiapan hingga pelaksanaan kegiatan.
“Ucapan terima kasih secara khusus juga ditujukan kepada pemerintah Kecamatan Lainea, pemerintah desa, Puskesmas, kader kesehatan, tokoh masyarakat, dan seluruh masyarakat yang telah menerima serta berpartisipasi dalam pelaksanaan intervensi SEMANGAT,” katanya melalui rilis pers, pada Sabtu (31/10/2026)
Menurut Dr. Lilin Rosyanti, keberhasilan inovasi pengabdian masyarakat membutuhkan dukungan kelembagaan, kerja sama lintas profesi, serta keterlibatan aktif masyarakat.
“Harapan kami, SEMANGAT tidak hanya menjadi tema kegiatan PKLT, tetapi dapat berkembang menjadi model pengabdian kepada masyarakat yang memiliki pedoman, perangkat implementasi, mekanisme evaluasi, dan keberlanjutan program. Dengan kolaborasi seluruh pihak, inovasi ini diharapkan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan dapat dikembangkan pada wilayah binaan lainnya,” ungkapnya.
Pelaksanaan PKLT Desa Terpadu tahun 2026 menjadi salah satu tahapan pengembangan inovasi SEMANGAT sebagai pendekatan pengabdian masyarakat berbasis kolaborasi interprofesional.
Dengan demikian, SEMANGAT diharapkan dapat menjadi salah satu model inovasi pengabdian masyarakat unggulan Poltekkes Kemenkes Kendari yang mengintegrasikan pendidikan interprofesional, pemberdayaan masyarakat, dan pembangunan kesehatan berkelanjutan, khususnya di wilayah pesisir dan kepulauan.
Kontributor: Sutarman












