Benteng Keraton Buton, Warisan Leluhur yang Jadi Destinasi Wisata Sejarah dan Budaya

225
Benteng Keraton Buton, Warisan Leluhur yang Jadi Destinasi Wisata Sejarah dan Budaya
KERATON BUTON – Pengunjung berfoto di salah satu sisi Keraton Buton, 5 Mei 2023. Mereka dipandu oleh Pokdarwis Dadi Mangura Keraton Molagina. (Foto: Dadi Mangura Keraton Molagina)

ZONASULTRA.ID, BAUBAU – Kawasan Benteng Keraton Buton atau Benteng Wolio merupakan warisan Kesultanan Buton yang masih berdiri kokoh hingga saat ini. Kawasan ini berada di Kelurahan Melai Kecamatan Murhum Kota Baubau Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).

Wolio berasal berasa dari kata welia yang berarti “menebas”. Kata welia ada kaitannya dengan aktivitas para pendiri Kerajaan Buton di masa lampau yang kala itu menebas hutan untuk menjadi kawasan tempat bermukim.

Dikutip dari kemenparekraf.go.id, pemukiman Wolio awalnya dirintis oleh beberapa orang dari tanah Melayu yang dikenal dengan “Mia Patamiana” (orang yang empat) yakni Sipanjonga, Simalui, Sijawangkati dan Sitamanajo yang awalnya dibentuklah dua satuan pemukiman yang di dalam bahasa Wolio disebut limbo.

Pada awalnya, benteng tersebut hanya dibangun dalam bentuk tumpukan batu karst yang disusun mengelilingi komplek istana dengan tujuan untuk mambuat pagar pembatas antara komplek istana dengan perkampungan masyarakat sekaligus sebagai benteng pertahanan.

Tinggi benteng berkisar 2 sampai 8 meter dengan lebar sekitar 0,5 hingga 2 meter. Konon dalam pembangunannya mengandalkan cara tradisional masyarakat setempat yakni batuan penyusun benteng direkatkan dengan campuran kapur, putih telur, dan pasir.

Pada masa kejayaan pemerintahan Kesultanan Buton, keberadan Benteng Keraton Buton (Benteng Wolio) memberi pengaruh besar terhadap eksistensi Kerajaan. Dalam kurun waktu lebih dari empat abad, Kesultanan Buton bisa bertahan dan terhindar dari ancaman musuh. Karena letaknya pada puncak bukit yang cukup tinggi dengan lereng yang cukup terjal memungkinkan benteng ini jadi tempat pertahanan terbaik di masanya.

Pada tahun 2006, Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) bersama dengan Guinness Book Of World Record menobatkan Benteng Keraton Buton sebagai benteng pertahanan terluas di dunia dengan luas 23, 375 Hektare dan keliling benteng sepanjang 2.740 meter.

Menawarkan Pengalaman Berwisata yang Khas

Benteng Keraton Buton menawarkan pengalaman berwisata selain pemandangan, tentu saja adalah tentang sejarah dan budaya yang khas. Pengalaman mendatangi destinasi ini mungkin saja tak ada di tempat lain di Indonesia.

Benteng Keraton Buton, Warisan Leluhur yang Jadi Destinasi Wisata Sejarah dan Budaya
Pokdarwis Dadi Mangura Keraton Molagina mengantar wisatawan dari Ambon ke Batu Wolio. ada istilah kalau belum pernah pegang batu Wolio maka berarti tidak pernah ke Buton. (Foto: Dadi Mangura Keraton Molagina)

Benteng Keraton Buton terletak di puncak dengan ketinggian sekitar 100 meter di atas permukaan laut (mdpl). Dari ketinggian tersebut, wisatawan dapat melihat pemandangan Kota Baubau beserta dengan selat Pulau Buton dan Pulau Muna yang berhadapan langsung.

Dari puncak, tempat ini menawarkan pesona sunrise dan sunset yang menawan. Tampak juga kapal-kapal hilir mudik di Selat Buton. Paling asyik jalan santai di kawasan ini, apalagi terdapat makanan dan minuman ringan yang dijajakan masyarakat setempat.

BACA JUGA :  Seorang Wanita di Kendari Jadi Korban Salah Tembak Polisi

Benteng Keraton Buton (Benteng Wolio) memiliki 12 pintu gerbang yang disebut Lawa dan 16 emplasemen meriam yang mereka sebut Baluara. Meriam inilah yang juga banyak menjadi latar untuk berfoto.

Selain itu, di dalam Benteng Keraton Buton itu sendiri, juga terdapat beberapa situs sejarah, rumah tradisional warga, sentra kerajinan tradisional, gua, dan lainnya. Wisatawan dapat berkunjung secara mandiri atau bisa menggunakan jasa local tour guides atau pemandu wisata dari Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dadi Mangura Keraton Molagina.

Pokdarwis ini diketuai oleh Maman Suarman Tauhid, yang menawarkan paket kunjungan wisata Keraton Buton. Pokdarwis ini akan mengantar pengunjung ke situs-situs sejarah dan budaya serta memberikan penjelasan yang lengkap mulai dari manfaat hingga kegunaan.

Karena belum lama terbentuk, Pokdarwis ini masih sementara menyusun paket yang akan ditawarkan. Salah satunya mereka menguji coba paket tour yaitu 6 jam perjalanan dengan biaya Rp100 ribu per orang. Pengunjung dibawa ke situs yang ada di depan masjid keraton. Lalu, dibawa ke pengrajin tudung saji di mana pengunjung dapat melakukan simulasi dengan praktik langsung membuatnya.

Benteng Keraton Buton, Warisan Leluhur yang Jadi Destinasi Wisata Sejarah dan Budaya
Herman Gambi bersama keluarganya berkunjung ke Keraton Buton. Mereka berkesempatan melihat uang kuno (yang berbingkai) Kerajaan Buton. (Foto: Dadi Mangura Keraton Molagina)

Kemudian, pengunjung dibawa ke situs gua persembunyian Arung Palaka. Wisatawan juga akan dibawa ke pembuat kue tradisional tulituli untuk praktik membuatnya, mulai dari penyiapan adonan hingga menggorengnya. Terakhir, pemandu akan membawa wisatawan ke spot-spot foto.

Dalam rangkaian perjalanan itu, termasuk kunjungan ke situs Batu Popaua dan ke situs Batu Wolio. Batu Popaua dikenal sebagai batu pelantikan dan pengambikan sumpah semua Raja Buton. Batu ini memiliki lubang yang muat untuk satu kaki. Saat pelatinkan satu kaki raja masuk dalam lubang batu itu lalu mengucap sumpah.

Sementara Batu Wolio dipercaya masyarakat sebagai tempat pertama Putri Wakaka ditemukan oleh Tentara Kubalai Khan. Di batu Wolio ini pula Putri Wakaka diangkat menjadi raja pertama Buton. Kata Maman, ada istilah kalau belum pernah pegang batu Wolio maka berarti tidak pernah ke Buton.

Lokasi yang juga diminati wisatawan adalah tempat penjualan souvenir, yang juga terdapat koleksi mata uang kuno Kerajaan Buton bernama “kampua”. Mata uang ini diciptakan pertama kali oleh Ratu Buton yang kedua, Bulawambona. Uang ini terbuat dari kain yang ditenun secara tradisional.

BACA JUGA :  Tenunan Khas Daerah Sultra Tampil di Ajang Indonesia Fashion Week 2024

“Saat ini kami sedang menginventaris kira-kira apalagi yang bisa kita paketkan karena kalau cuma setengah hari terlalu singkat. Kita mau coba bikin paket dua sampai tiga hari, jadi mungkin satu hari di kawasan benteng, mungkin hari berikutnya di Pantai Nirwana, Batu Sori, atau di hutan pinus Samparona Baubau,” ujarnya.

Keraton Jadi Pilihan Wisatawan

Lokasi Keraton Buton sekitar 3 Kilometer dari Pelabuhan Murhum Kota Baubau dan 5 kilometer dari Bandara Betoambari Baubau. Dengan dukungan jalan beraspal yang mulus rute dari pelabuhan dan bandara itu dapat ditempuk dalam waktu 15 menit saja.

Keraton Buton banyak dikunjungi oleh wisatawan domestik, sementara dari mancanegara masih tergolong minim. Pada awal 2023 ini, Maman memandu kelompok mahasiswa Korea yang selain berkunjung juga melakukan aksi bersih-bersih.

Kunjungan membludak saat momen-momen lebaran atau saat ada kapal besar yang sandar di Pelabuhan Baubau. Kadang pemandu wisata dari Pokdarwis Dadi Mangura Keraton Molagina sampai kewalahan menangani banyaknya pengunjung. Diperkirakan pengunjung kadang mencapai 300 orang per hari.

Untuk hari-hari biasa, Keraton Buton tetap ramai dikunjungi oleh warga yang lari sore dan jalan santai. Mereka hanya sekedar datang berolahraga sembari menikmati suasana Keraton dan melihat pemandangan Selat Buton.

Salah satu pengunjung domestik yang senang bisa memakai jasa pemandu wisata dari Pokdarwis Dadi Mangura Keraton Molagina adalah Herman Gambi (40). Dia bersama keluarganya berkunjung ke keraton untuk melihat suasananya dan ke situs-situs yang ada.

Herman sendiri berasal dari Lolibu, Kecamatan Lakudo, Buton Tengah, hanya selama ini merantau di Balik Papan, Kalimantan. Kunjungan itu dilakukannya saat libur lebaran Idul Fitri 2023 pada Hari Jumat 5 Mei 2023. Herman bersama belasan anggota keluarganya kembali ke Balik Papan melalui Pelabuhan Baubau sehingga menyempatkan diri singgah berkunjung ke Keraton Buton.

“Dengan adanya pemandu lebih bagus, kalau kita mau jalan ke mana-mana ada yang kasi petunjuk jalan daripada jalan sendiri. Ada yang bisa jelasin ini itu, jadi sedikitnya bisa kita tahu juga sejarah-sejarah di situ,” ujar Herman.

10 tahun yang lalu ia pernah berkunjung ke Keraton tapi tanpa pemandu wisata sehingga tak begitu puas karena tak tahu jalur-jalurnya. Herman mengaku sangat terbantu dengan adanya jasa pemandu wisata yang kini ada. Bersama keluarga besar, ia bisa tuntas berwisata di Keraton Buton.(*)

 


Editor: Muhamad Taslim Dalma

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini