Membersihkan Negeri dari Wabah Lewat Tarian Lumense

Membersihkan Negeri dari Wabah Lewat Tarian Lumense
TARI LUMENSE - Penjemputan para raja dari beberapa daerah di Sultra dengan persembahan tari lumense saat pelobatan Raja Kabaena di Desa Tangkeno, Kecamatan Kabaena Tengah, Bombana, pada 2018 silam. (Foto: Dok. ZONASULTRA.ID)

ZONASULTRA.ID, KENDARI – Tari lumense adalah tarian tradisional yang terdapat di Pulau Kabaena, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara (Sultra). Tarian ini diyakini sudah ada sejak 200 tahun yang lalu.

Lumense berasal dari bahasa suku Moronene, penduduk asli Pulau Kabaena. Lumense terdiri dari dua suku kata, yaitu lume yang bermakna pembersihan dan eense yang artinya berjingkrak-jingkrak seperti berada di atas bara api.

Jika disatukan, lumense memiliki arti sebagai tarian untuk membersihkan negeri dengan gerakan berjingkrak-jingkrak. Gerakan penarinya laksana seorang yang sedang mengamuk dengan pedang di tangannya.

Ilfan Nurdin, seorang tokoh adat di Pulau Kabaena mengatakan, tari lumense awalnya adalah tarian yang dilakukan dalam pe-olia, yaitu ritual penyembahan kepada roh halus yang disebut kowonuano.

Ritual ini dimaksudkan agar kowonuano berkenan mengusir segala macam bencana, termasuk wabah penyakit yang merajalela.

“Zaman dulu banyak muncul wabah penyakit, apalagi kalau musim angin barat itu, kolera, flu, demam dan diare merajalela. Makanya ditarikan atau dilumensekan untuk membersihkan negeri dari wabah-wabah tersebut,” ungkap Ilfan Nurdin, yang juga merupakan pewaris Mokole Kotu’a bergelar Van Day Tongalere XVI ini.

Menurut Ilfan Nurdin, dulu tarian ini sangat mistis. Sebab, persembahan dalam tarian ini adalah manusia, yakni seorang perempuan. Ketika tarian selesai, perempuan tersebut langsung ditebas menggunakan pedang atau parang sebagai bentuk persembahan kepada dewa atau roh halus agar menghilangkan wabah penyakit tersebut. Itulah sebabnya tari lumense juga disebut tarian penyembuhan.

Saat ini penggunaan tari lumense sudah bergeser menjadi tarian penyambutan kepada tamu kehormatan. Begitu juga tumbal persembahan yang awalnya manusia diganti menjadi pohon pisang. Ini diyakini karena pengaruh masuknya Islam di Kabaena.

Tari lumense pernah dilarang karena dirasa melenceng dengan ajaran agama Islam. Pelarangan ini terjadi sekitar tahun 1938 di masa kepemimpinan Mokole Kabaena (Raja) Abdul Rahim. Barulah pada tahun 1970-an, tari lumense kembali ditampilkan dan diperkenalkan kepada masyarakat.

Gerakan dan Busana Tari Lumense

Membersihkan Negeri dari Wabah Lewat Tarian Lumense
Pertunjukan tari lumense di Desa Tangkeno, Kecamatan Kabaena Tengah, Bombana, pada 2018 silam. (Foto: Dok. ZONASULTRA.ID)

Tari lumense diawali dengan gerakan maju mundur, bertukar tempat kemudian membentuk konfigurasi huruf Z lalu berubah menjadi S. Klimaks dari tarian ini adalah ketika para penari menebaskan parang kepada pohon pisang sampai pohon pisang tersebut jatuh bersamaan ke tanah.

Adapun penutup dari tarian ini para penari membentuk konfigurasi setengah lingkaran. Mereka saling mengaitkan tangan lalu menggerakkannya naik turun sambil mengimbangi kaki yang maju mundur.

BACA JUGA :  Budaya Muna dalam Pukulan Gong dan Tabuhan Gendang "Rambi Wuna"

Ilfan Nurdin mengatakan, tari lumense dulunya dibawakan oleh laki-laki dan perempuan. Tetapi saat ini hanya dibawakan oleh perempuan. Meski begitu, tetap ada simbol laki-laki dalam tarian ini berupa topi kerucut khas Kabaena yang dikenakan oleh penari.

Tarian ini dilakukan oleh kelompok perempuan dalam jumlah genap, bisa 8, 10, atau 12 orang, bahkan bisa ditampilkan secara massal.

Jika jumlah penari 8 orang maka pohon pisang yang menjadi properti ada 4 batang. Jika jumlah penari 10 orang maka pohon pisang juga harus ada 5 batang, dan begitu seterusnya.

Dari jumlah penari tersebut kembali dibagi dua, ada yang berperan sebagai perempuan dan ada yang berperan sebagai laki-laki.

Ilfan Nurdin mengatakan, awalnya tari lumense tidak boleh dibawakan secara massal karena kemistisan tarian ini. Namun, setelah dilakukan rembuk bersama antara pemangku adat, pemangku agama, dan pemerintah daerah maka tarian ini boleh ditampilkan secara massal.

Kali pertama tari lumense ditampilkan massal dalam rangka menyambut kedatangan Gubernur Sultra, Nur Alam di Kecamatan Kabaena Timur sekitar 2012 lalu. Saat itu, Bombana dipimpin oleh Bupati Tafdil dan wakilnya Masyhura.

Terakhir tari lumense dibawakan massal dalam rangkaian upacara HUT ke-77 RI di Istana Kepresidenan Jakarta.

Para penari lumense menggunakan busana adat Kabaena. Untuk para penari yang berperan sebagai perempuan memakai rok berwarna merah marun dan atasan baju hitam. Baju ini disebut dengan taincombo.

Sementara untuk penari yang berperan sebagai laki-laki memakai taincombo yang

dipadukan dengan selendang merah. Mereka memakai korobi (sarung parang dari kayu) yang disandang di pinggang sebelah kiri serta memakai topi berbentuk kerucut.

Tari lumense diiringi oleh musik yang berasal dari alat musik gendang dan gong besar

(tawa-tawa) serta gong kecil (ndengu-ndengu). Ketiga instrumen musik ini dimainkan serentak oleh tiga orang pemain musik.

Sejarah Tari Lumense

Membersihkan Negeri dari Wabah Lewat Tarian Lumense
Pertunjukan Tari Pesona Indonesia beriringan tari lumense dalam acara pembukaan Festival Budaya di Desa Tangkeno Kecamatan Kabaena Kabupaten Bombana pada 2017 silam. (Foto: Dok. ZONASULTRA.ID)

Dahulu kala, masyarakat Kabaena mempercayai bahwa pada musim barat para jin sedang ramai berkeliaran di perkampungan.

Pada waktu-waktu itu, para orang tua di Kabaena berpesan kepada anak-anaknya agar tidak terlalu berkeliaran karena wabah penyakit seperti kolera, flu, demam, dan sebagainya sering menjangkiti masyarakat.

Singkat cerita, akhirnya wabah penyakit menjangkiti masyarakat Pulau Kabaena. Untuk mengatasi wabah tersebut, konon ada seorang laki-laki bernama Volia Mpehalu melakukan pertapaan di Gua Watuburi selama delapan hari untuk mencari petunjuk cara menghadapi wabah penyakit.

BACA JUGA :  Mengenal Tari Balumpa, Warisan Budaya Takbenda Indonesia

Dalam pertapaan itu, ia mendengar bunyi gendang, disertai turunnya para dewa dari kayangan dan menarikan tari lumense.

Suatu hari Raja Kabaena meminta Volia Mpehalu untuk menghadap di istana. Ketika raja menanyakan bagaimana cara meredam penyakit kolera yang sedang mewabah di Kabaena, Volia Mpehalu meminta agar dipukulkan gendang.

Ketika gendang mulai dibunyikan, ia pun langsung berdiri dan menari lumense. Volia Mpehalu inilah yang dikenal sebagai orang yang pertama kali melakukan lumense.

Sejak saat itu, ketika masyarakat Kabaena sudah mulai diserang penyakit yang menjadi epidemik maka dilakukanlah lumense sebagai upacara untuk mengusir wabah penyakit tersebut.

Ilfan Nurdin menjelaskan, upacara mengusir wabah penyakit itu dipimpin oleh seseorang bissa (dukun) kerajaan. Sebelum memimpin upacara seorang bissa mengambil kain putih satu pis, uang logam di Tangkeno Mpeolia, tempat persembahan di kaki Gunung Sabampolulu.

Selanjutnya, ketika gendang lumense sudah dibunyikan maka makhluk halus akan turun dari Sabampolulu. Bersamaan dengan itu, dalam upacara ini akan ada orang yang kerasukan.

Orang yang kerasukan disebut dengan Wowolia. Ia bisa melihat dan berkomunikasi dengan makhluk halus. Ia pun akan ikut menari sebagaimana yang dilakukan oleh makhluk halus tersebut.

Penebasan tumbal oleh orang yang kerasukan berupa seorang perempuan merupakan puncak dari kerasukan tersebut. Gadis yang akan menjadi persembahan harus memiliki beberapa persyaratan antara lain sebagai titisan sangia yang masih suci dan belum menikah.

Seiring dengan perkembangan peradaban, persembahan berupa seorang wanita pun diganti dengan binatang seperti kerbau atau babi.

Pada perkembangan berikutnya, persembahannya pun diganti menjadi sebatang pohon pisang sebagai simbol penyerahan tumbal.

Ilfan Nurdin mengatakan, hingga saat ini tari lumense masih eksis dan terjaga, termasuk alat musik yang mengiringinya dari dulu sampai sekarang tidak berubah.

Sebab, ketika ada ketukan atau tabuhan gendang yang salah, akan ada peserta tari lumense yang kerasukan, terutama yang ditampilkan secara massal.

“Saat tampil di Istana Presiden itu banyak yang kerasukan karena pukulan gendangnya ada yang salah,” kata Ilfan Nurdin.

Menurut Ilfan Nurdin, lumense tetap dilestarikan sebagai bentuk penghargaan budaya.

Selain ditampilkan saat penyambutan tamu, tari lumense juga kerap diperlombakan saat 17 Agustus-an sebagai bagian dari upaya untuk tetap melestarikan tarian tersebut. (*)

Editor: Jumriati

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini