Mengenal Kabhanti Modero, Menari Sambil Berbalas Pantun

165
Penari modero bukan hanya perempuan tapi laki-laku juga menari modero semabari berbalas pantun.
TARIAN MODERO – Para penari modero berpegangan tangan menari sambil berbalas pantun.

ZONASULTRA.ID, KENDARI – Modero merupakan tarian lokal yang berkembang dalam masyarakat etnis Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).

Tari modero tak berbeda jauh dengan tari molulo yang berasal dari suku Tolaki. Yang membedakannya peserta modero saling berbalas pantun dalam bahasa daerah Muna.

Masyarakat Muna juga terkadang menyebut tarian ini “kabhanti modero”. Kabhanti sendiri berasal dari kata bhanti yang berarti puisi, sajak atau nyanyian.

Pertunjukan tari modero dapat dijumpai saat acara perkawinan, acara panen jagung, dan event-event budaya lainnya.

Salah satu tokoh masyarakat Kecamatan Lawa, Muna Barat, La Samau mengatakan, tari modero merupakan salah satu tradisi yang telah ada sejak ratusan tahun lalu.

La Samau menyebut modero bukan asli Muna, melainkan berasal dari daerah lain yang dibawa oleh para pendatang.

Dulu, modero dapat dinikmati ketika berlangsung acara-acara pernikahan, pengislaman (katoba), syukuran, ataupun acara lainnya.

Semakin lama tarian ini semakin berkembang sehingga masyarakat Muna menjadikan modero sebagai hiburan tersendiri.

Ketika selesai panen, malam harinya mereka akan menampilkan modero sebagai bentuk hiburan setelah seharian bekerja di ladang atau kebun.

Gerakan Tari Modero

Para peserta modero akan menari berkeliling sambil berbalas pantun. Peserta modero ini terdiri dari dua kelompok, yakni perempuan dan laki-laki.

Tiap kelompok terdiri atas minimal tiga orang dan maksimalnya tidak terbatas.

“Tidak boleh hanya perempuan, dan tidak boleh juga hanya laki-laki,” terang La Samau, ditemui medio Oktober 2023.

BACA JUGA :  Dorong Peningkatan Kualitas Event Pariwisata, Dispar Sultra Launching KEN 2024
Mengenal Kabhanti Modero, Menari Sambil Berbalas Pantun
Penari modero bukan hanya perempuan tapi laki-laku juga menari modero semabari berbalas pantun.

Saat tarian Modero digelar, kata La Samau, semua tumpah ruah dalam lingkaran dan saling menyapa lewat pantun yang penuh dengan syair indah.

Syair itu bisa berisi perasaan cinta kepada seseorang serta pesan-pesan moral tentang kehidupan. Itu juga sebabnya, modero kerap dijadikan ajang mencari jodoh bagi muda-mudi waktu dulu.

Tari modero dilakukan dengan bergandengan tangan secara melingkar. Kaki digerakkan berirama dua kali ke kanan, satu kali ke kiri, demikian seterusnya.

Sementara tangan saling menggenggam dengan posisi siku 90 derajat dan diayunkan ke atas dan ke bawah perlahan-lahan sejajar pinggang.

Aturan mainnya, barisan antara laki-laki dan perempuan dibuat secara terpisah. Pakaian yang digunakan pada tari Modero yaitu baju sehari-hari dan sarung Bhia-bhia atau disebut dengan Kamoru.

Namun sesuai dengan perkembangannya, tari Modero hanya menggunakan baju sehari-hari baik itu penari perempuan maupun penari laki-laki.

Sejarah Kabhanti Modero

Masuknya modero di Kabupaten Muna ada banyak versi. Ada yang menyebutkan bahwa modero kali pertama ditampilkan pada masa pemerintahan Raja pertama Muna bernama Baidull Zamani pada 1460.

Baidull Zamani kemudian menikah dengan putri Raja Sulawesi Tengah yaitu Tandi Abe. Saat itulah seni modero mulai dilaksanakan.

“Tidak ada tanggal pasti, yang jelas ini sudah ada dari zaman kerajaan (Muna),” ujar Syahrun dihubungi pada Jumat (10/11/2023).

Penari modero bukan hanya perempuan tapi laki-laku juga menari modero semabari berbalas pantun.
Para peserta lomba tari modero pada Agustus 2023 lalu di Muna Barat. Tarian ini jadi salah satu lomba seni dan budaya. (Foto: Istimewa)

Versi lainnya, modero masuk di Kabupaten Muna pada masa pemerintahan raja terakhir di Kerajaan Muna, La Ode Pandu setelah kemerdekaan RI pada 1948.

BACA JUGA :  Dorong Peningkatan Kualitas Event Pariwisata, Dispar Sultra Launching KEN 2024

Raja La Ode Pandu dan masyarakat Muna disebut-sebut sangat menyukai kabhanti modero pada waktu itu.

Kabhanti modero berasal dari tarian Suku Dayak yang ada di Kalimantan. Tarian ini tiba di Kabupaten Muna dibawa oleh para pelayar dari suku Dayak.

Pada waktu itu, para pelayar yang berasal dari suku Dayak, sebelum tiba di Muna, singgah dulu di Sulawesi Tengah bagian Luwuk. Ketika berada di Sulawesi Tengah, mereka memperkenalkan permainan modero.

Setelah itu, mereka pergi ke Sulawesi Tenggara, tepatnya di Muna, yaitu di Lambale (pertengahan antara Maligano dan Kulisusu). Pada waktu mereka berada di Muna, mereka memperkenalkan tarian dero.

Setelah tiba di Muna, tarian dero diubah namanya menjadi modero. Sejak saat itu dan selanjutnya, modero mulai berkembang di Muna.

Budayawan Sultra Syahrun mengatakan, Kabhanti modero memang terbilang unik. Sebab, pantun yang mereka lontarkan tidak ada dalam teks dan hanya spontan begitu saja.

Oleh karena itu, menurutnya perlu ada campur tangan pemerintah untuk melestarikan tari Modero. Salah satunya bisa lewat perlombaan modero bagi generasi penerus agar tradisi lisan ini tidak punah.

Nasra, salah satu generasi muda Muna mengaku sejak kecil sangat menyukai pertunjukan modero. Baginya itu menjadi daya tarik sendiri.

Namun kini ia sudah jarang melihat pertunjukan tersebut. Ia harap tradisi ini masih bisa terus eksis. (*)

 


Editor: Jumriati

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini