Mengenal Tari Balumpa, Warisan Budaya Takbenda Indonesia

128
Mengenal Tari Balumpa, Warisan Budaya Takbenda Indonesia
Para Penari di Wakatobi memperagakan tari Balumpa. (Foto: Istimewa)

ZONASULTRA.ID, KENDARI – Tari balumpa merupakan salah satu tarian selamat datang atau tarian penyambutan yang khas dari Sulawesi Tenggara (Sultra). Tari balumpa termasuk tari tradisional yang cukup berkembang di Sultra dan masih lestari hingga saat ini.

Balumpa berasal dari kata “balu” yang berarti lenggak-lenggok dan “lumpa” yang berarti berjalan sehingga secara harfiah balumpa diartikan berjalan lenggak-lenggok.

Sesuai namanya, gerakan tari balumpa didominasi gerakan tangan dan tubuh yang melenggak-lenggok serta gerakan kaki yang diayunkan ke depan.

Tarian ini menceritakan tentang sekelompok gadis yang sedang berdendang dengan penuh keceriaan diiringi lagu daerah dan musik gambus.

Pada awal kemunculannya, tari balumpa termasuk tarian pergaulan yang ditampilkan oleh penari wanita dan pria. Namun sekarang ditampilkan oleh penari perempuan saja.

Jumlah penari tari balumpa juga harus genap, bisa 6 atau 8 penari. Namun, yang lebih sering ditampilkan adalah dengan 8 penari.

Tari balumpa biasanya ditampilkan saat menyambut kedatangan tamu penting dari luar daerah. Selain untuk menyambut tamu, tari balumpa juga ditampilkan di berbagai acara pertunjukan seni, festival budaya, ataupun promosi wisata, seperti gelaran Wakatobi Wave 2023 yang digelar awal November lalu.

Tarian ini juga pernah ditampilkan oleh pelajar Sultra dalam pagelaran tahunan Lotus Festival Los Angeles di Amerika Serikat pada pertengahan Juli 2023. Tujuannya untuk memperkenalkan budaya Sultra.

Tari balumpa sendiri sudah resmi menjadi warisan budaya takbenda Indonesia pada akhir 2021.

Tokoh masyarakat Togo Binongko, Saaluddin, mengatakan, tari balumpa diciptakan oleh para orang tua dulu untuk menyambut tamu yang datang ke Binongko. Tarian ini lahir dari keramahtamahan masyarakat Kepulauan Binongko yang sangat menghargai tamu.

BACA JUGA :  Tenunan Khas Daerah Sultra Tampil di Ajang Indonesia Fashion Week 2024

Menurut Saaluddin, tari ini sudah ada sejak Kepulauan Binongko masih berada di bawah Kesultanan Buton yang hingga saat ini masih terus dilestarikan.

Salah satu poin penting dalam tari balumpa adalah ekspresi gembira yang ditunjukkan para penari saat menari. Sehingga tari balumpa tak hanya terlihat indah dari segi gerakan, tetapi juga ramah.

“Ekspresi gembira itu punya makna bahwa kita menghargai tamu, kita ingin tamu terkesan, merasa nyaman, merasa dihargai,” terang Saaluddin yang juga Camat Togo Binongko, saat dihubungi, Senin (20/11/2023).

Busana Tari Balumpa
Mengenal Tari Balumpa, Warisan Budaya Takbenda Indonesia
Enam orang penari Balumpa yang menggunakan pakaian adat. (Foto: Istimewa)

Busana yang dikenakan para penari balumpa adalah pakaian adat, berupa baju kombo yang bawahannya menggunakan sarung tenun khas Wakatobi. Sarung tersebut bisa dibentuk menyerupai rok yang dipakaikan pengikat di bagian pinggang.

Saaluddin mengatakan, biasanya pakaian yang digunakan tidak hanya satu warna, tapi berwarna-warni. Hal itu menandakan ciri khas dari masyarakat Pulau Binongko yang berbeda-beda, tetapi tetap dalam bingkai kesatuan.

“Pakaian itu menandakan ciri khas di Binongko, dari sekian warna menjadi satu kekutan dan keindahan,” ujar Saaluddin.

Adapun properti tari balumpa berupa selendang. Untuk musik pengiringnya yakni alat musik tradisional sederhana berupa gambus, gendang, dan botol kaca kosong yang dipukul menggunakan sendok.

Dikatakan Saaluddin, gambus merupakan alat musik yang menjadi identitas utama tari balumpa ini. Petikan gambus akan mempertegas ekspresi gerak para penari. Ditambah tabuhan gendang yang semakin membuat para penari bersemangat.

Terakhir ada botol kaca kosong yang dipukul dengan sendok. Alat musik ini berfungsi sebagai pemanis untuk menambah keindahan musik tarian ini.

Selain alat musik, tari balumpa juga diiringi oleh lagu berupa syair atau pantun dalam bahasa Binongko. Lagu tersebut berisikan puji-pujian dan gambaran kehidupan masyarakat.

BACA JUGA :  Dorong Peningkatan Kualitas Event Pariwisata, Dispar Sultra Launching KEN 2024
Gerakan Tari Balumpa

Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan oleh La Ode Muhammad Rahmat (2019), gerakan tari balumpa terdiri dari empat ragam, yaitu:

  1. Potabhea
    Penari membentuk pola baris dan mengawali tarian dengan penghormatan. Gerakan potabhea dengan mengangkat tangan kanan sejajar dada, sedangkan tangan kiri diayun ke belakang. Kemudian diikuti dengan kepala sedikit membungkuk.
  2. Poliughi
    Pada gerakan ini dibentuk oleh hentakan kaki dan pinggul, diikuti dengan kibasan selendang secara berpasangan. Sedangkan satu penari lain disimbolkan sebagai kepala.Gerakan tangan diayunkan menggunakan selendang mengikuti iringan musik. Pandangan penari mengikuti gerakan properti.
  3. Poli-loli
    Penari sejajar kebelakang kemudian penari melakukan gerak dengan posisi tangan kanan diayun ke atas dan tangan kiri diayun ke bawah berlawanan sambil memegang selendang.
  4. Kaukuruno siku
    Gerakan seperti poliughi, kemudian diikuti dengan gerakan mengangkat kedua siku sejajar dada lalu badan dimiringkan ke kiri. Pandangan fokus pada siku bagian kiri. Kemudian berputar secara perlahan kembali ke titik awal.

Terkait pengembangan tari balumpa, Saaluddin mengatakan, pemerintah dan masyarakat Kecamatan Togo Binongko terus berupaya untuk tetap melestarikannya.

Salah satunya melalui sekolah-sekolah, mulai dari tingkat SD hingga SMA dan karang taruna untuk mengenalkan tari balumpa. Tari ini juga rutin dipertunjukkan saat perayaan 17 Agustus.

Saaluddin berharap pemangku kebijakan memberikan perhatian agar tari balumpa tetap lestari. Misalnya, mendirikan sanggar di Pulau Binongko yang bisa menjadi wadah generasi muda untuk belajar mengenai tari balumpa. (***)

 


Editor: Jumriati

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini